
Aksi massa terbesar berlangsung di Toronto, dengan perkiraan 350.000 orang turun ke jalan untuk melakukan protes (Foto: BBC News )
Penulis: Fityan
TVRINews-Munich
Aksi Global di Berbagai Benua Desak Perubahan Rezim di Teheran
Gelombang unjuk rasa besar-besaran melanda berbagai kota utama di dunia pada Sabtu 14 Februari 2026, menyusul seruan "hari aksi global" yang diinisiasi oleh Reza Pahlavi, putra mahkota Iran yang berada dalam pengasingan.
Ratusan ribu orang turun ke jalan sebagai bentuk solidaritas terhadap gerakan anti-pemerintah di dalam negeri Iran.
Di Munich, Jerman, massa yang diperkirakan mencapai 250.000 orang berkumpul untuk mendengarkan pidato Reza Pahlavi.
Dalam orasinya, Pahlavi mengecam keras tindakan represif otoritas Iran terhadap para demonstran dan menyerukan penggulingan rezim saat ini.
"Pesan pertama saya adalah untuk rekan-rekan senegara kita yang pemberani dan sedang berjuang di dalam negeri: ketahuilah bahwa Anda tidak sendirian.
Hari ini, dunia berdiri bersama Anda dalam perjuangan ini," ujar Pahlavi di hadapan massa yang memadati lokasi tersebut.
Solidaritas Lintas Benua
Selain di Munich, pusat-pusat konsentrasi massa terbesar terpantau di Los Angeles, Amerika Serikat, dan Toronto, Kanada. Aksi serupa dengan skala lebih kecil juga berlangsung di Tel Aviv, Lisbon, Sydney, hingga London.
Di Toronto, sekitar 350.000 peserta menyampaikan aspirasi mereka. Berdasarkan laporan BBC Persian, banyak di antara mereka hadir untuk menjadi suara bagi kerabat dan teman-teman mereka di Iran yang ruang geraknya dibatasi oleh pemerintah.
Sementara itu, di Los Angeles, putri Reza Pahlavi, Noor Pahlavi, menekankan bahwa rakyat Iran saat ini berada pada titik terdekat menuju kebebasan. Melansir mitra BBC, CBS News, Noor mendesak Presiden AS Donald Trump untuk menghentikan negosiasi nuklir dengan kepemimpinan Iran saat ini, yang ia gambarkan sebagai "negosiasi dengan pembunuh."
Konteks Krisis dan Tekanan Politik
Demonstrasi di dalam Iran sendiri bermula sejak 28 Desember lalu, dipicu oleh gejolak ekonomi yang kemudian meluas menjadi gerakan politik nasional di lebih dari 100 kota.
Data mengenai korban jiwa masih menunjukkan perbedaan antara lembaga pemantau dan pernyataan resmi:
- HRANA (Human Rights Activists News Agency): Mengonfirmasi 6.872 pengunjuk rasa tewas, termasuk lebih dari 150 anak-anak.
- Otoritas Iran: Mengakui sedikitnya 3.000 kematian, namun mengklaim sebagian di antaranya adalah anggota pasukan keamanan.
Masa Depan Kepemimpinan
Reza Pahlavi, yang berusia 18 tahun saat Revolusi Islam 1979 menumbangkan takhta ayahnya, kini kembali muncul sebagai figur sentral yang diharapkan sebagian demonstran untuk memimpin masa depan Iran.
Meskipun namanya sering diteriakkan dalam aksi-aksi di dalam negeri, Pahlavi masih menghadapi tantangan skeptisisme dari para kritikus.
Muncul kekhawatiran apakah visi politiknya akan mengarah pada republik demokratis atau justru upaya pemulihan monarki tuduhan yang secara konsisten dibantah olehnya.
Presiden AS Donald Trump, dalam pernyataannya kepada Reuters bulan lalu, menyebut Pahlavi sebagai sosok yang "sangat baik," meski ia masih mempertanyakan sejauh mana dukungan nyata yang bisa dihimpun Pahlavi di dalam wilayah Iran untuk memimpin transisi kekuasaan di masa depan.
Editor: Redaktur TVRINews
