
Ahmad Vahidi berbicara dalam konferensi pers [Foto: Al Jazeera/Majid Asgaripour]
Penulis: Fityan
TVRINews – Teheran
Penunjukan Vahidi Menandai Babak Baru Pertahanan Iran Melawan Serangan AS-Israel
Di tengah eskalasi konflik yang menghancurkan, Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi resmi mengambil alih komando Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Penunjukan ini dilakukan saat Iran menghadapi gempuran udara masif dari pasukan Amerika Serikat dan Israel yang telah menewaskan lebih dari 1.000 orang dan melumpuhkan infrastruktur di berbagai kota besar.
Vahidi mewarisi tongkat estafet kepemimpinan yang dipenuhi risiko. Pendahulunya, Mohammad Pakpour, tewas dalam serangan pembuka pada 28 Februari lalu.
Kejadian ini menyusul kematian Hossein Salami dalam konflik Juni 2025. Kini, Vahidi memegang tanggung jawab yang bahkan belum pernah diemban oleh sosok ikonik Qassem Soleimani: memimpin ujung tombak militer Iran dalam perang skala penuh yang terbuka.
Profil Sang Strategist: Militer dan Birokrat
Berbeda dengan para pendahulunya, Vahidi adalah kombinasi langka antara prajurit lapangan dan birokrat ulung.
Ia merupakan produk asli IRGC sejak akhir 1970-an dan sempat memimpin Pasukan elit Quds pada periode 1988-1997 sebelum menyerahkan kepemimpinan kepada Soleimani.
Rekam jejak politiknya pun mentereng. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan di era Presiden Mahmoud Ahmadinejad dan Menteri Dalam Negeri di bawah mendiang Presiden Ebrahim Raisi hingga 2024.
"Vahidi adalah birokrat yang sangat cakap," ujar Ali Alfoneh, pakar Iran dari Arab Gulf States Institute di Washington, dalam wawancaranya dengan Al Jazeera.
"Latar belakangnya menjadikannya pemimpin masa perang yang ideal bagi Garda Revolusi, sebuah organisasi yang jauh lebih kompleks daripada sekadar unit militer."
Tantangan di Tengah Desentralisasi
Tugas utama Vahidi saat ini adalah menjaga kohesi internal IRGC. Seiring gugurnya banyak pimpinan senior, muncul laporan mengenai unit-unit militer yang mulai beroperasi secara independen dari kontrol pemerintah pusat.
Mantan kepala IRGC, Mohammad-Ali Jafari, sebelumnya memang menerapkan strategi desentralisasi agar organisasi tetap berfungsi meskipun Teheran jatuh atau kepemimpinan puncak dilumpuhkan.
Nader Hashemi, Direktur Alwaleed Center di Universitas Georgetown, menilai bahwa kelangsungan hidup Republik Islam kini bergantung sepenuhnya pada kemampuan Vahidi.
"Mereka (IRGC) diciptakan untuk momen seperti ini. Masa depan Iran bergantung pada kemampuan mereka untuk melawan dan bertahan dari serangan ini," tuturnya.
Kontroversi dan Jejak Internasional
Meski dikenal pragmatis pernah terlibat dalam kontak rahasia dengan AS pada skandal Iran-Contra tahun 1980-an sosok Vahidi tak lepas dari kontroversi internasional.
Interpol pernah mengeluarkan Red Notice terhadapnya atas dugaan keterlibatan dalam pengeboman pusat komunitas Yahudi AMIA di Argentina tahun 1994, sebuah tuduhan yang dibantah keras oleh Teheran.
Editor: Redaksi TVRINews
