
Sekretaris Jenderal Organisasi Kerja Sama Ekonomi Negara Berkembang Delapan (D-8) Sohail Mahmood (Foto: Anadolu)
Penulis: Fityan
TVRINews – Istanbul, Turki
Melalui kantor permanen di Turkiye, negara anggota targetkan penguatan investasi dan perdagangan lintas batas.
Organisasi Kerja Sama Ekonomi Delapan Negara Berkembang (D-8) mengumumkan langkah strategis untuk memperkuat struktur kelembagaan melalui pembentukan Sekretariat Permanen Kamar Dagang dan Industri.
Inisiatif ini diproyeksikan menjadi pilar baru dalam mengintegrasikan kekuatan ekonomi sektor swasta di antara negara-negara anggota.
Sekretaris Jenderal D-8, Sohail Mahmood, mengungkapkan rencana tersebut di sela-sela Forum Diplomasi Antalya (ADF) 2026.
Menurutnya, keberadaan sekretariat ini akan memberikan arah yang lebih terfokus pada kolaborasi bisnis lintas negara.
“Langkah ini tidak hanya memperkokoh fondasi kelembagaan D-8, tetapi juga memberikan mandat khusus bagi sektor swasta untuk memimpin upaya pemulihan dan pertumbuhan ekonomi,” ujar Mahmood kepada Anadolu di Antalya.
Sentralitas Istanbul dan Visi Global
Sesuai rencana, sekretariat baru tersebut akan berbasis di Istanbul, Turkiye. Kota ini memiliki nilai historis dan strategis bagi organisasi yang didirikan pada tahun 1997 tersebut.
Mahmood menekankan bahwa visi awal pembentukan D-8 oleh Perdana Menteri Turkiye kala itu, Necmettin Erbakan, tetap menjadi kompas organisasi dalam menghadapi dinamika global.
Aliansi yang terdiri dari Turkiye, Indonesia, Pakistan, Iran, Bangladesh, Malaysia, Nigeria, dan Mesir ini semula dibentuk untuk mengatasi berbagai tantangan di dunia Muslim melalui peningkatan kerja sama ekonomi yang konkret.
Stabilitas di Tengah Konflik Global
Di luar isu ekonomi, Mahmood turut menyoroti urgensi diplomasi di tengah meningkatnya ketidakstabilan geopolitik.
Dengan lebih dari 50 konflik bersenjata yang aktif di seluruh dunia, ia memperingatkan dampak sistemik terhadap kemanusiaan dan stabilitas kawasan.
Ia memuji peran forum internasional, termasuk upaya Islamabad dalam memfasilitasi dialog krusial antara Amerika Serikat dan Iran, sebagai bukti bahwa jalan damai harus tetap menjadi prioritas utama.
“Kami menyambut baik setiap upaya penyelesaian damai. Ketika konflik meluas, kebutuhan akan solusi diplomatik menjadi semakin mendesak,” tambahnya.
Menutup pernyataannya, Mahmood mengapresiasi Forum Diplomasi Antalya yang dinilai telah bertransformasi menjadi pusat perhatian diplomatik dunia.
Platform ini dianggap krusial bagi para pemimpin negara untuk menyelaraskan agenda bilateral maupun internasional di bawah satu atap.
Editor: Redaktur TVRINews
