TVRINews – Bangkok
Menlu RI Tekankan Dialog Inklusif dalam Pertemuan Informal Bangkok
Menteri Luar Negeri Republik Indonesia kembali menegaskan posisi strategis ASEAN dalam penyelesaian krisis di Myanmar, menyusul pertemuan informal para menteri luar negeri kawasan yang berlangsung di Bangkok, Thailand,Minggu 12 Juli 2026.
Pertemuan yang diinisiasi oleh Filipina selaku ketua ASEAN tahun ini bersama Thailand sebagai tuan rumah, menjadi momentum evaluasi kritis terhadap implementasi Five-Point Consensus (5PC).
Diskusi ini merupakan kelanjutan dari rangkaian diplomasi yang dimulai sejak KTT ASEAN di Cebu, hingga upaya mediasi intensif yang dilakukan Indonesia melalui kunjungan diplomatik ke Nay Pyi Taw pada bulan Juni lalu.
Dalam forum tersebut, diplomasi Indonesia mendesak adanya tinjauan yang obyektif dan berimbang terkait dinamika di Myanmar pascapemilihan umum. Meski beberapa perkembangan telah tercatat, blok kawasan ini mengakui bahwa tantangan utama tetap pada minimnya dialog yang melibatkan seluruh elemen pemangku kepentingan nasional.
"Dialog nasional yang inklusif dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan adalah kunci menuju perdamaian serta rekonsiliasi yang berkelanjutan," ujar Menlu RI dikutip Senin 13 Juli 2026.
Menlu RI secara tegas memposisikan 5PC sebagai instrumen utama yang tak tergantikan. Poin krusial yang ditekankan mencakup penghentian segera tindakan kekerasan, jaminan akses kemanusiaan yang aman dan nondiskriminatif, serta penguatan mekanisme kolektif ASEAN, termasuk potensi perpanjangan mandat Utusan Khusus untuk memastikan upaya diplomasi tetap konsisten di lapangan.
Di tengah upaya regional tersebut, Indonesia tetap memegang teguh prinsip bahwa solusi terbaik harus lahir dari internal Myanmar sendiri, atau yang dikenal dengan istilah Myanmar-owned dan Myanmar-led. Pendekatan ini bertujuan untuk menempatkan rakyat Myanmar sebagai subjek utama dalam rekonsiliasi nasional.
"Solusi yang berkelanjutan harus bersifat Myanmar-owned dan Myanmar-led. Indonesia siap membantu membangun jembatan untuk mewujudkan hal tersebut," pungkas Menlu RI, menegaskan kembali peran Indonesia sebagai fasilitator yang menjunjung tinggi kedaulatan serta stabilitas kawasan.
Pertemuan di Bangkok ini menjadi sinyal kuat bahwa ASEAN tidak akan mengendurkan tekanannya dalam mendorong stabilitas politik di Myanmar, sembari tetap menjaga koridor diplomasi yang terbuka bagi seluruh pihak yang terlibat.










