
Foto : BBC News
Penulis: Fityan
TVRIews – Budapest
Di Tengah Upaya Isolasi Rusia, Pertemuan Trump-Putin di Hungaria Jadi Tontonan Canggung
Rencana kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Hungaria, anggota Uni Eropa dan NATO, untuk bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah memicu ketidaknyamanan signifikan di kalangan sekutu Ukraina yang telah berupaya mengisolasi pemimpin Rusia itu.
Keputusan memilih Budapest sebagai lokasi pertemuan puncak, yang diumumkan Trump pada Kamis (16/10) lalu, terjadi di saat ketegangan memuncak dan hanya berselang dua pekan setelah muncul indikasi Washington mungkin mengirimkan rudal Tomahawk ke Kyiv.
Pemilihan negara yang menjadi bagian dari kelompok pendukung Ukraina sebagai lokasi pertemuan ini menuai kritik pedas dari para diplomat dan analis.
Pertemuan ini dinilai sebagai pukulan simbolis langsung bagi Uni Eropa dan NATO. "Ini canggung bagi Uni Eropa dan NATO," kata seorang pejabat senior Eropa Barat kepada Reuters, yang meminta anonimitas.
"Waktu adalah segalanya: ancaman Tomahawk makin besar dan tiba-tiba Putin ingin bertemu. Namun, jika Trump bisa mencapai sesuatu, ia harus melakukannya."
Hungaria: Pelabuhan Hangat Putin di Tengah Sanksi Internasional
Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban dikenal karena mempertahankan hubungan baik dengan Moskwa, memperkuat statusnya sebagai 'anak nakal' di Brussel setelah konflik bertahun-tahun terkait apa yang disebut Uni Eropa sebagai kemunduran demokrasi di Budapest.
Kunjungan Putin menjadi sorotan mengingat ia menghadapi surat perintah penangkapan dari Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) atas tuduhan mendeportasi anak-anak secara ilegal dari Ukraina.
Secara teknis, surat perintah tersebut seharusnya berlaku, tetapi Menteri Luar Negeri Hungaria Peter Szijjarto mengatakan pada Jumat (17/10) bahwa Hungaria akan memastikan Putin dapat memasuki negaranya untuk KTT dan kembali dengan aman.
Fakta bahwa Putin tidak akan menghadapi penangkapan di Budapest menguatkan anggapan banyak pihak. "Tidak ada yang akan terkejut jika pihak Hungaria tidak menangkap Putin," ujar seorang diplomat senior dari negara anggota Uni Eropa kepada Reuters.
Pukulan Simbolis dan Manfaat Politik Domestik Orban
Analis geopolitik di Red Snow Consulting, Botond Feledy, menilai pemilihan Budapest memungkinkan Putin "memukul beberapa sasaran dengan satu batu."
"Di satu sisi, ia akan mengadakan pembicaraan tentang perang Ukraina di negara Uni Eropa tanpa dihadiri oleh para pemimpin Uni Eropa," jelas Feledy. "Bagi Putin, ini adalah pukulan ke perut yang jauh lebih kuat secara simbolis bagi Eropa pada berbagai tingkat dibandingkan jika pertemuan ini diadakan di Turki atau di tempat lain."
Pertemuan ini juga berpotensi menguntungkan Orban secara domestik. Jelang pemilihan umum tahun depan, di mana jajak pendapat menunjukkan partainya, Fidesz, tertinggal dari rivalnya, Orban diperkirakan akan menonjolkan perannya sebagai mediator.
"Pihak Hungaria pasti akan mencoba menampilkan perannya sebagai peran penting, menjembatani kesenjangan antara dua pihak yang sangat berbeda," kata Marcin Przydacz, penasihat kebijakan luar negeri Presiden Polandia.
Jika pertemuan ini menghasilkan kesepakatan damai, hal itu dapat menguatkan narasi Orban bahwa hubungannya dengan Rusia diperlukan untuk mengakhiri perang. "Jika ada kesepakatan, itu akan melegitimasi narasinya tentang perdamaian secara retrospektif," simpul Zoltan Novak, analis di Centre for Fair Political Analysis.
Editor: Redaktur TVRINews
