
Foto : Reuters
Penulis: Fityan
TVRINews – Vatican
Gereja Katolik tengah bersiap menghadapi Pekan Suci, momen paling sakral dalam kalender liturgi tahunan, namun tahun ini, suasananya dipenuhi dengan ketidakpastian. Paus Fransiskus, yang baru saja pulih dari pneumonia ganda dan menjalani perawatan intensif selama 38 hari, kemungkinan besar tidak akan tampil di depan publik selama serangkaian perayaan tersebut.
Dokter telah menyarankan agar Paus berusia 88 tahun itu menjalani masa istirahat total selama dua bulan guna mempercepat proses penyembuhan. Akibatnya, peranannya dalam misa-misa penting menjelang Paskah kini menjadi tanda tanya besar.
“Ini jelas akan menjadi Pekan Suci yang sangat berbeda, baik bagi Paus maupun umat Katolik di seluruh dunia,” ujar Anna Rowlands, akademisi Katolik dari Universitas Durham, Inggris. Ia menambahkan bahwa keheningan Paus justru bisa memberi makna spiritual yang lebih dalam bagi banyak umat.
Biasanya, Paus Fransiskus memimpin delapan liturgi besar selama Pekan Suci di Vatikan, termasuk Misa Kamis Putih yang mengenang Perjamuan Terakhir, Jumat Agung yang memperingati penyaliban Yesus, dan Misa Malam Paskah yang sarat simbol kebangkitan. Puncaknya adalah Misa Minggu Paskah di Lapangan Santo Petrus yang selalu dipadati puluhan ribu umat.
Namun hingga kini, belum ada kejelasan siapa yang akan menggantikan Paus dalam setiap misa. Kemungkinan besar, para kardinal senior akan mengambil alih tugas tersebut. Vatikan menyatakan bahwa keikutsertaan Paus akan ditentukan secara situasional, apakah beliau bisa hadir secara langsung, melalui video, atau sama sekali tidak muncul.
Kondisi fisik Paus memang belum pulih sepenuhnya. Sejak keluar dari rumah sakit pada 23 Maret lalu, ia hanya tampil sekali di hadapan publik, yaitu pada 6 April dengan penampilan singkat dan suara lemah. Meski begitu, umat Katolik di berbagai belahan dunia tetap menantikan kehadirannya, bahkan jika hanya melalui tulisan atau doa.
Bagi Rev. Bruce Morrill, seorang imam Yesuit dan dosen di Universitas Vanderbilt, AS, ketidakhadiran fisik Paus tidak serta-merta mengurangi kekuatan pesannya. “Ketekunan dan keterbukaan Paus dalam menghadapi sakitnya justru menambah makna baru pada Pekan Suci kali ini,” ujarnya. “Orang-orang mungkin akan menemukan kekuatan dan inspirasi dalam cara berbeda—dari ketidakhadiran beliau secara fisik.”
Dalam beberapa pekan terakhir, Vatikan merilis pesan-pesan tertulis yang disebut sebagai hasil refleksi pribadi Paus selama masa pemulihan. Homili-homili yang dibacakan dalam liturgi Vatikan juga disebut sebagai hasil tulisan tangan Paus. Rowlands meyakini bahwa Paus akan tetap ‘hadir’—meski tidak secara fisik, melalui tulisan-tulisannya yang mengangkat tema penderitaan, keterbatasan, kekerasan, dan harapan menuju kebangkitan.
Paus Fransiskus, yang menjabat sejak 2013, telah melewati berbagai tantangan kesehatan, termasuk absen dari rangkaian Jumat Agung pada 2023 dan 2024. Namun sejauh ini, ia belum pernah absen dari perayaan Paskah, termasuk pidato “Urbi et Orbi” yang biasanya disampaikan dari balkon Basilika Santo Petrus untuk menyerukan perdamaian dunia.
Jika tahun ini Paus harus melewatkan momen penting tersebut, umat Katolik diyakini akan tetap menghormati pilihan itu sebagai bentuk dedikasi spiritual yang dalam, bukan ketidakhadiran semata.
Baca Juga: Menlu Sugiono bertemu Menlu AS bahas Tarif Trump
Editor: Redaktur TVRINews
