
Presiden Donald Trump bertemu dengan Presiden Lee Jae Myung di Ruang Oval, Washington, D.C., AS, 25/8 ( Foto: Reutersa)
Penulis: Fityan
TVRInews – Washington DC
Presiden AS Siap Kembali Berdiplomasi, Korea Utara Diam Seribu Bahasa
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan keinginannya untuk bertemu kembali dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, dalam tahun ini. Pernyataan ini disampaikan Trump saat menyambut Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, di Gedung Putih.
Sikap terbuka ini menjadi sinyal baru di tengah hubungan dingin yang telah berlangsung sejak Trump mengakhiri masa jabatan pertamanya.
"Saya ingin bertemu dengannya tahun ini," ujar Trump kepada wartawan di Ruang Oval, menyambut Lee Jae Myung untuk pertemuan pertamanya di Gedung Putih. "Saya menantikan pertemuan dengan Kim Jong Un di masa depan yang sesuai."
Pernyataan ini datang meskipun Kim Jong Un mengabaikan upaya Trump untuk melanjutkan diplomasi langsung yang sempat terjalin pada periode 2017-2021. Upaya tersebut gagal menghasilkan kesepakatan untuk menghentikan program nuklir Korea Utara.
Kunjungan Presiden Korea Selatan & Lobi Politik
Kunjungan Presiden Lee Jae Myung ke Washington berlangsung dengan suasana yang kontras dari kunjungan pemimpin negara lain. Alih-alih konfrontasi, Lee Jae Myung memilih pendekatan yang memuji Trump, bahkan menyebut telah membaca memoar sang presiden, "Trump: The Art of the Deal," sebagai persiapan.
"Saya berharap Anda bisa membawa perdamaian ke Semenanjung Korea, satu-satunya negara yang terbagi di dunia, sehingga Anda dapat bertemu dengan Kim Jong Un, membangun Trump World (kompleks real estat) di Korea Utara agar saya bisa bermain golf di sana, dan Anda bisa benar-benar memainkan peran sebagai pembawa perdamaian dalam sejarah dunia," kata Lee Jae Myung.
Di balik pujian tersebut, ada isu-isu sulit yang dibahas, termasuk kesepakatan perdagangan dan pembagian biaya militer. Meskipun kedua negara telah mencapai kesepakatan perdagangan pada bulan Juli, masih ada ketidaksepakatan terkait energi nuklir dan pengeluaran militer. Trump bahkan melontarkan kritik baru terhadap sekutu Asia-nya ini.
"Saya pikir kami sudah mencapai kesepakatan," kata Trump terkait perdagangan, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Ancaman Nuklir & Kritik Korea Utara
Presiden Lee Jae Myung, dalam acara terpisah di Center for Strategic and International Studies di Washington, mengungkapkan kekhawatiran seriusnya. Ia menyebut bahwa meskipun sanksi besar telah diberlakukan, Korea Utara terus mengembangkan senjata nuklir dan misil. "Korea Utara sekarang memiliki kapasitas untuk membangun 10 hingga 20 hulu ledak nuklir per tahun," ujarnya.
Sementara itu, media pemerintah Korea Utara belum memberikan tanggapan langsung terhadap tawaran pertemuan Trump. Sebaliknya, mereka menyatakan bahwa latihan militer gabungan AS-Korea Selatan adalah bukti niat Washington untuk "menduduki" Semenanjung Korea dan menargetkan negara-negara di kawasan.
Baca juga: Tragedi Gaza: Jurnalis AP News Tewas dalam Serangan Ganda Israel di Rumah Sakit
Editor: Redaksi TVRINews
