Penulis: Fityan
TVRINews – DHARAMSHALA, INDIA
Menjelang ulang tahunnya ke-90, pemimpin spiritual Tibet tegaskan kelanjutan institusi Dalai Lama dan serukan penolakan terhadap campur tangan Beijing dalam proses reinkarnasi.
Pemimpin spiritual tertinggi Tibet, Dalai Lama ke-14, Tenzin Gyatso, memastikan bahwa dirinya tidak akan menjadi Dalai Lama terakhir, sekaligus mengakhiri spekulasi panjang soal keberlanjutan institusi Dalai Lama. Pernyataan ini disampaikan menjelang ulang tahunnya yang ke-90 pada Minggu mendatang.
“Tidak ada pihak lain yang memiliki wewenang dalam proses ini,” kata Dalai Lama dalam pernyataan video yang ditayangkan saat upacara doa di Dharamshala, India, Rabu (2/7), seperti dilaporkan oleh Associated Press (AP). “Pencarian reinkarnasi harus mengikuti tradisi spiritual kami di masa lalu.”
Pernyataan ini menjadi sinyal politik yang kuat terhadap Beijing, yang selama ini mengklaim bahwa mereka memiliki hak tunggal untuk menyetujui siapa Dalai Lama berikutnya. China menekankan bahwa penerus Dalai Lama harus ditemukan di wilayah Tibet yang berada di bawah kekuasaan mereka.
Namun, Dalai Lama menegaskan bahwa pencarian sosok penerus akan dilakukan oleh Gaden Phodrang Trust, lembaga yang ia dirikan pada 2015 untuk mengelola urusan spiritual dan kelembagaan Dalai Lama. Ia juga menolak keras keterlibatan otoritas China.
“Proses suci ini adalah tradisi unik dalam Buddhisme Tibet dan bukan alat politik,” ujar Penpa Tsering, Presiden Pemerintahan Tibet di Pengasingan, dalam konferensi pers. “Kami menolak keras klaim China atas proses reinkarnasi dan tidak akan pernah mengakuinya.”
Dalai Lama merupakan sosok yang sangat dihormati oleh umat Buddha Tibet sebagai manifestasi hidup Chenrezig, dewa belas kasih. Sejak 1587, reinkarnasi Dalai Lama diyakini terjadi berdasarkan petunjuk spiritual, penglihatan, dan tanda-tanda khusus yang hanya bisa diinterpretasikan oleh para biksu senior. Biasanya, proses pencarian memakan waktu bertahun-tahun hingga sosok anak yang diyakini sebagai reinkarnasi ditemukan dan dibimbing secara khusus.
Tenzin Gyatso sendiri menjadi Dalai Lama ke-14 pada 1940, sebelum akhirnya melarikan diri dari Tibet ke India setelah pemberontakan yang dihancurkan oleh tentara China pada 1959. Sejak saat itu, ia tinggal di pengasingan di Dharamshala dan menjadi simbol perjuangan damai untuk otonomi Tibet.
Pernyataan Dalai Lama kali ini sangat penting dalam konteks geopolitik dan identitas Tibet yang terus ditekan oleh pemerintah China. Banyak pihak memperkirakan akan muncul dua klaim Dalai Lama di masa depan — satu ditunjuk oleh China, dan satu lagi oleh para biksu yang setia pada Dalai Lama ke-14.
“Selama dunia masih membutuhkan belas kasih, Dalai Lama akan terus hadir,” demikian penutup pernyataan Dalai Lama yang sarat makna, menegaskan bahwa warisan spiritual Tibet tak akan padam oleh tekanan politik manapun.
Editor: Redaktur TVRINews
