
Kedirgantaraan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Pada Acara Pameran di Taman Kedirgantaraan Nasional, pinggiran Teheran, Iran, November 2025. [Foto: EPA News/Abdeen Tahernareh]
Penulis: Fityan
TVRINews-Teheran
Trump tawarkan imunitas penuh bagi pasukan Garda Revolusi yang bersedia letakkan senjata sekarang.
Eskalasi konflik di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel menghantam sejumlah titik di Iran pada Sabtu 28 Februari 2026 malam.
Di tengah ketegangan tersebut, Presiden AS Donald Trump mengeluarkan pernyataan keras yang ditujukan langsung kepada korps militer elit Iran, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Dalam pesannya, Trump menuntut para personel IRGC, angkatan bersenjata, dan kepolisian Iran untuk meletakkan senjata atau menghadapi konsekuensi fatal.
"Kepada anggota Garda Revolusi Islam, angkatan bersenjata, dan seluruh kepolisian, saya katakan malam ini bahwa Anda harus meletakkan senjata dan mendapatkan imunitas penuh," ujar Trump dalam pernyataan resminya minggu 1 Merat 2026.
"Atau sebagai alternatif, hadapi kematian yang pasti. Letakkan senjata Anda. Anda akan diperlakukan adil dengan imunitas total, atau Anda akan menghadapi kematian."Tambahnya
Respons Iran dan Gugurnya Pemimpin Tertinggi
Alih-alih mematuhi seruan tersebut, pihak Teheran justru membalas dengan gelombang serangan pesawat nirawak (drone) dan rudal yang menargetkan Israel serta beberapa negara Arab yang menampung aset militer AS di kawasan tersebut.
Situasi semakin memanas setelah televisi negara Iran mengumumkan kabar mengejutkan pada Minggu pagi.
Laporan tersebut mengonfirmasi bahwa salah satu serangan di Teheran telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran yang telah menjabat lama, Ayatollah Ali Khamenei.
Kematian Khamenei menciptakan kekosongan kekuasaan yang krusial, namun seruan Trump agar IRGC membelot tampaknya tidak membuahkan hasil.
Para analis menilai struktur ideologis dan ekonomi IRGC yang sangat kuat menjadi alasan utama mengapa instruksi Washington tersebut diabaikan.
IRGC Pilar Kekuatan Teheran
IRGC bukan sekadar unit militer biasa. Didirikan pasca-Revolusi Islam 1979, lembaga ini merupakan komponen konstitusional militer Iran yang memiliki jalur komando langsung kepada Pemimpin Tertinggi, terpisah dari tentara reguler.
IRGC Terdiri dari angkatan darat, laut, udara, serta pasukan operasi eksternal (Pasukan Quds) dan milisi paramiliter Basij.
IRGC menguasai sektor strategis seperti sumber daya alam, infrastruktur, dan telekomunikasi melalui kebijakan "ekonomi perlawanan" untuk menyiasati sanksi internasional.
Diperkirakan memiliki 190.000 personel aktif dan mencapai 600.000 jika ditambah dengan pasukan cadangan.
Mengapa Militer Iran Tetap Bertahan?
Banyak pihak meragukan janji imunitas Trump akan berdampak pada loyalitas militer Iran. Michael Mulroy, mantan Deputi Asisten Sekretaris Pertahanan AS untuk Timur Tengah kepada BBC News dan Al Jazeera menjelaskan kerumitan struktur kekuasaan di Iran.
"Di Iran, terdapat berbagai pusat kekuasaan mulai dari kalangan ulama, militer, IRGC, hingga dinas intelijen. Kecil kemungkinan mereka akan mematuhi apa yang dilakukan Presiden Trump dan Israel," ujar Mulroy
Ia menambahkan bahwa pernyataan dari pejabat tinggi Iran, termasuk Ali Larijani, mengindikasikan niat Teheran untuk terus melakukan eskalasi yang berpotensi memicu perang total di kawasan tersebut.
Senada dengan hal itu, Jonathan Panikoff, Direktur Scowcroft Middle East Security Initiative di Atlantic Council, berpendapat bahwa runtuhnya rezim saat ini belum tentu membawa demokrasi.
Sebaliknya, Iran kemungkinan akan bertransformasi menjadi negara yang sepenuhnya dikendalikan militer di bawah kendali kuat IRGC, meskipun terdapat sosok pemimpin tertinggi baru sebagai simbol formalitas.
Meski Iran sempat diguncang protes internal akibat kesulitan ekonomi pada Januari lalu, IRGC terbukti tetap solid secara organisasi.
Kelompok ini telah melakukan regenerasi kepemimpinan dengan cepat pasca-perang 2025, memastikan rantai komando tetap berjalan meskipun kehilangan figur sentral seperti Ayatollah Ali Khamenei.
Editor: Redaktur TVRINews
