
Foto : BBC News
Penulis: Fityan
TVRINews – Moscow, Rusia
'Operasi Singa Bangkit' Israel Bikin Moskow Was-was, Strategi Geopolitik Putin di Ujung Tanduk
Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Israel melancarkan 'Operasi Singa Bangkit' yang menargetkan Iran. Eskalasi ini, yang digambarkan pejabat Rusia sebagai "mengkhawatirkan" dan "berbahaya", ternyata menyimpan dilema besar bagi Moskow, bahkan berpotensi membuat Kremlin kehilangan sekutu strategis lagi di kawasan tersebut.
Awalnya, media Rusia sempat menyoroti beberapa "keuntungan" yang bisa diraup Moskow dari konflik ini, antara lain kenaikan harga minyak global yang diprediksi akan mengisi kas Rusia, serta pengalihan perhatian dunia dari perang di Ukraina. "Kyiv telah terlupakan," demikian judul utama Moskovsky Komsomolets, menunjukkan optimisme awal mereka. Tawaran mediasi dari Kremlin juga dilihat sebagai peluang untuk memposisikan Rusia sebagai pemain kunci dan pembawa perdamaian di Timur Tengah, meskipun tindakannya di Ukraina.
Namun, seiring berjalannya operasi militer Israel, kekhawatiran Moskow kian membesar. "Eskalasi konflik membawa risiko serius dan potensi kerugian bagi Moskow," tulis ilmuwan politik Rusia, Andrei Kortunov, dalam harian bisnis Kommersant pada Senin (16/6) lalu. Ia menyoroti fakta bahwa Rusia tidak mampu mencegah serangan besar-besaran Israel terhadap Iran, negara yang baru lima bulan lalu menjalin kemitraan strategis komprehensif dengan Rusia. "Jelas Moskow tidak siap untuk melampaui pernyataan politik yang mengutuk Israel, tidak siap memberikan bantuan militer kepada Iran," tambahnya.
Perlu dicatat, perjanjian kemitraan strategis Rusia-Iran yang ditandatangani Vladimir Putin dan Presiden Masoud Pezeshkian awal tahun ini bukanlah aliansi militer dan tidak mewajibkan Moskow untuk membela Teheran. Meskipun demikian, Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov sempat menyatakan bahwa kesepakatan tersebut "memberikan perhatian khusus pada penguatan koordinasi demi kepentingan perdamaian dan keamanan di tingkat regional dan global, serta keinginan Moskow dan Teheran untuk kerja sama yang lebih erat di bidang keamanan dan pertahanan," seperti dikutip dari kantor berita Ria Novosti.
Kehilangan sekutu bukanlah hal baru bagi Moskow di Timur Tengah. Enam bulan lalu, Rusia telah kehilangan Bashar al-Assad, pemimpin Suriah, yang kini diberikan suaka di Rusia setelah digulingkan. Prospek perubahan rezim di Iran dan kehilangan mitra strategis lainnya di kawasan tersebut menjadi kekhawatiran besar bagi Moskow.
"Dalam politik global saat ini, perubahan besar sedang terjadi secara real-time yang akan memengaruhi kehidupan di negara kita, baik secara langsung maupun tidak langsung," demikian kesimpulan Moskovsky Komsomolets pada Selasa, mengomentari perkembangan di Timur Tengah.
Presiden Vladimir Putin sendiri dijadwalkan menghabiskan sebagian besar minggu ini di St. Petersburg, tempat diselenggarakannya Forum Ekonomi Internasional tahunan. Meskipun acara ini pernah dijuluki "Davos Rusia", label tersebut kini tidak lagi relevan mengingat absennya para CEO perusahaan besar Barat sejak invasi Rusia ke Ukraina. Namun, penyelenggara mengklaim bahwa tahun ini perwakilan dari lebih dari 140 negara dan wilayah akan hadir. Otoritas Rusia hampir pasti akan menggunakan acara ini untuk mencoba menunjukkan bahwa upaya mengisolasi Rusia atas perang di Ukraina telah gagal.
Baca Juga: Iran Mengundang Presiden Prabowo untuk Kunjungi Tehran
Editor: Redaktur TVRINews
