
Foto : AP News
Penulis: Fityan
TVRINews – Tokyo,Jepang
Pernyataan Taku Eto di Tengah Krisis Beras Picu Kemarahan Publik, Pemerintahan Ishiba Kian Tertekan
Gelombang kritik dari masyarakat akhirnya memaksa Menteri Pertanian Jepang, Taku Eto, untuk mengundurkan diri pada Rabu (21/5) setelah pernyataannya yang dianggap tidak sensitif di tengah krisis beras yang melanda negara tersebut.
Eto menyampaikan bahwa ia telah menyerahkan surat pengunduran dirinya dan telah diterima oleh Perdana Menteri Shigeru Ishiba. Langkah ini diambil setelah komentar Eto yang menyebut dirinya “tidak pernah membeli beras” karena selalu mendapatkan kiriman dari para pendukungnya, memicu kemarahan publik yang tengah menghadapi kelangkaan beras dan melonjaknya harga bahan pokok tersebut.
"Saya sadar telah mengucapkan hal yang tidak pantas dan melukai perasaan banyak orang. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya," ujar Eto dalam konferensi pers singkat yang digelar di Tokyo.
Pernyataan Eto dinilai mencerminkan ketidaksensitifan elit politik terhadap kesulitan ekonomi masyarakat, terutama di tengah kondisi kelangkaan bahan pangan yang semakin memburuk. Kritik mengalir deras dari berbagai kalangan, termasuk oposisi yang menilai ucapan tersebut sebagai bentuk “arogansi kekuasaan”.
Krisis ini turut menambah tekanan bagi pemerintahan minoritas Perdana Menteri Ishiba yang tengah mengalami penurunan tajam dalam tingkat kepercayaan publik. Survei terakhir menunjukkan dukungan terhadap kabinet Ishiba merosot di bawah 30 persen, memicu spekulasi potensi reshuffle atau bahkan pemilu lebih awal.kutip AP News.
Pengunduran diri Eto menjadi pukulan politik serius bagi Ishiba yang selama ini mengandalkan dukungan dari sektor pertanian dan pedesaan. Kini, pemerintah harus bergerak cepat mengendalikan krisis pangan sekaligus memulihkan citra di hadapan rakyat yang kian resah.
“Ini bukan hanya soal ucapan tak pantas, tapi soal kepekaan pemerintah terhadap penderitaan rakyat,” ujar analis politik dari Universitas Tokyo, Prof. Naomi Kuroda, kepada Associated Press.
Pemerintah Jepang saat ini tengah mengupayakan distribusi darurat dan subsidi untuk menstabilkan harga beras, sambil mencari sosok pengganti Eto yang mampu meredam kemarahan publik dan memulihkan kepercayaan terhadap kebijakan pangan nasional.
Sementara itu, nama-nama calon menteri pertanian pengganti mulai bermunculan di kalangan politisi partai koalisi, namun belum ada pengumuman resmi dari kantor perdana menteri.
Editor: Redaktur TVRINews
