
Donald Trump memberikan penghormatan saat personel militer membawa peti jenazah Sersan Kelas 1 Nicole Amor, yang gugur dalam serangan pesawat nirawak di Kuwait. (Foto: EPA/ Will Oliver)
Penulis: Fityan
TVRINews – Washington DC
Komando Pusat AS merilis rincian korban di tengah meningkatnya eskalasi konflik di kawasan.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa sedikitnya 200 personel militer mereka mengalami luka-luka sejak dimulainya konfrontasi bersenjata dengan Iran.
Data terbaru ini muncul di tengah laporan jatuhnya korban jiwa dari kedua belah pihak yang terus meningkat.
Juru bicara US Central Command, Kapten Tim Hawkins, menyatakan bahwa mayoritas personel yang terluka telah mendapatkan penanganan medis dan kembali bertugas.
"Sejak dimulainya Operasi Epic Fury, sekitar 200 anggota layanan AS terluka," ujar Hawkins dalam pernyataan resminya melalui surat elektronik, sebagaimana dilaporkan oleh The Guardian Selasa 17 Maret 2026.
Kondisi Korban dan Detail Operasi
Meskipun jumlah korban luka mencapai angka dua ratus, pihak militer menekankan bahwa sebagian besar cedera bersifat ringan. Hawkins mencatat bahwa 180 tentara telah dinyatakan pulih dan kembali ke unit masing-masing.
Namun, ia tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai jenis trauma yang dialami para prajurit tersebut.
Di sisi lain, laporan dari ABC News yang mengutip sumber pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, menyebutkan bahwa jenis luka yang dialami meliputi luka bakar, luka akibat serpihan peluru (shrapnel), hingga cedera otak traumatik (TBI).
"Dari total 200 korban luka, sedikitnya 10 personel militer dikategorikan mengalami luka serius," tambah Hawkins dalam laporan sebelumnya.
Eskalasi dan Dampak Regional
Hingga Senin waktu setempat, tercatat 13 personel militer AS tewas dalam konflik ini. Insiden tersebut mencakup:
• Enam awak pesawat tewas pekan lalu saat pesawat pengisi bahan bakar militer AS jatuh di Irak barat.
• Enam personel tewas akibat serangan pesawat nirawak (drone) Iran yang menghantam pusat operasional di pelabuhan sipil di Kuwait.
• Satu personel tambahan meninggal dunia setelah terluka dalam serangan di pangkalan udara Prince Sultan, Arab Saudi.
Konflik ini juga membawa dampak fatal bagi pihak Iran. Duta Besar Iran untuk PBB menyatakan pekan lalu bahwa lebih dari 1.300 warga Iran telah tewas. Selain itu, ratusan warga sipil di Lebanon dan 15 orang di Israel turut menjadi korban dalam rangkaian kekerasan yang meluas ini.
Di Washington, respons politik tetap terpecah. Donald Trump memberikan pernyataan yang dinilai kontradiktif terkait konflik ini.
Di satu sisi, ia mendesak sekutu Barat untuk terlibat aktif dalam perang demi melindungi Selat Hormuz guna mencegah gangguan pasokan minyak global. Namun di sisi lain, ia mengisyaratkan bahwa AS tidak perlu melakukan upaya militer besar-besaran karena cadangan minyak domestik yang dianggap mencukupi.
Editor: Redaktur TVRINews
