
Pasukan komando bersenjata ketika mengamankan Presiden Trump di hotel Hilton di Washington, DC, pada 25 April 2026 [Andrew Harnik/ AFP]
Penulis: Fityan
TVRINews – Washington DC
Insiden di Washington memicu kekhawatiran global terhadap protokol keselamatan menjelang turnamen FIFA 2026.
Insiden penembakan yang menargetkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam acara jamuan makan malam White House Correspondents’ Association telah memicu gelombang kekhawatiran internasional.
Peristiwa ini terjadi di saat AS tengah bersiap menjadi tuan rumah bersama ajang sepak bola terbesar di dunia, Piala Dunia FIFA 2026.
Pihak berwenang AS mengonfirmasi bahwa seorang pria bersenjata mencoba menerobos pos pemeriksaan di Hotel Washington Hilton.
Meski pelaku berhasil diringkus, insiden ini dianggap sebagai pelanggaran keamanan serius yang menimbulkan pertanyaan mendasar bagi jutaan penggemar sepak bola: Seberapa amankah Amerika Serikat bagi jutaan pengunjung internasional pada Juni mendatang?
Kekhawatiran Penggemar dan Integritas Keamanan
Dengan AS yang akan menyelenggarakan 78 dari 104 pertandingan, diprediksi terdapat 5 hingga 10 juta penggemar yang akan melintasi perbatasan. Namun, lemahnya pengamanan di jantung ibu kota negara tersebut memicu kritik tajam di media sosial.
"Layanan keamanan mereka membiarkan satu orang dengan senjata masuk ke gedung paling aman di dunia. Bagaimana nasib para pemain nantinya?" tulis salah seorang penggemar, merujuk pada insiden yang nyaris melukai pemimpin tertinggi negara tersebut.
Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Mengutip data dari Gun Violence Archive, hingga April 2026, AS telah mencatat lebih dari 126 insiden penembakan massal. Statistik ini, ditambah dengan kehadiran Trump yang diprediksi akan menghadiri laga-laga kunci, menambah kompleksitas protokol keamanan bagi publik.
Meski publik merasa cemas, sejumlah pakar keamanan menilai insiden ini tidak akan mengubah peta persiapan Piala Dunia secara drastis. Massimiliano Montanari, pengamat keamanan dari International Centre for Sport Security (ICSS), menyatakan bahwa AS memiliki pengalaman kontra-terorisme yang sangat kuat.
"Dunia saat ini berada dalam tekanan internasional yang besar. Penembakan ini memang menambah kekhawatiran, namun Secret Service dipastikan akan menjaga level atensi tertinggi," ujar Montanari kepada Al Jazeera.
Ia menambahkan bahwa fokus keamanan seharusnya tidak hanya pada lokasi pertandingan, tetapi juga perlindungan terhadap komunitas dan kolaborasi internasional yang inklusif.
Isu Imigrasi dan Hak Asasi Manusia
Di sisi lain, tantangan keamanan tidak hanya datang dari ancaman fisik, tetapi juga dari kebijakan domestik. Kehadiran personel Immigration and Customs Enforcement (ICE) di lokasi-lokasi pertandingan menimbulkan kekhawatiran bagi penonton mancanegara.
Amnesty International bersama lebih dari 120 organisasi sipil baru-baru ini mengeluarkan "travel advisory" bagi warga asing yang akan berkunjung ke AS. Mereka menyoroti situasi hak asasi manusia dan kurangnya jaminan konkret dari FIFA maupun pemerintah AS terkait perlindungan pengunjung dari tindakan represif aparat imigrasi.
Hingga berita ini diturunkan, FIFA belum memberikan pernyataan resmi terkait evaluasi ulang prosedur keamanan pasca-insiden di Washington. Amerika Serikat kini berada di bawah tekanan besar untuk membuktikan bahwa mereka mampu menyeimbangkan antara pengamanan ketat negara dan kenyamanan pesta olahraga global yang inklusif.
Editor: Redaktur TVRINews
