
Penulis: Ricardo Julio
TVRINews, Jakarta
Pemerintah Republik Indonesia dan Federasi Rusia menggelar Pertemuan ke-7 Working Group on Trade, Investment, and Industry (WGTII) RI-Rusia yang menjadi momentum penting untuk memperkuat kemitraan strategis kedua negara di tengah dinamika ekonomi global, termasuk tantangan proteksionisme dan disrupsi perdagangan akibat konflik di Timur Tengah.
Pertemuan ini dipimpin bersama oleh Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kemenko Perekonomian RI Edi Prio Pambudi bersama Deputi Menteri Pembangunan Ekonomi Federasi Rusia Vladimir Illichev.
“Pada kerja sama dengan Federasi Rusia, kami meyakini terdapat banyak potensi besar yang belum digarap dengan maksimal guna meningkatkan kerja sama perdagangan yang berkontribusi pada pertumbuhan berkelanjutan dan saling menguntungkan,” ungkap Deputi Edi dalam keterangannya yang dikutip pada Sabtu, 11 April 2026.
Momentum peringatan 76 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Rusia pada tahun 2026 juga dipandang sebagai peluang untuk memperdalam kolaborasi. Deputi Edi menekankan perlunya percepatan implementasi Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA) serta penguatan sektor prioritas seperti pangan, industri, investasi, dan ekonomi kreatif.
Senada dengan hal itu, Deputi Illichev dalam sambutannya menyampaikan pentingnya realisasi hasil pertemuan sebelumnya, termasuk penandatanganan I-EAEU FTA. Ia menyoroti perkembangan kerja sama strategis seperti sektor halal dan konektivitas logistik Surabaya-Vladivostok yang telah berjalan sejak 2023.
Sementara itu, Duta Besar RI untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus, Jose Tavares, menjelaskan bahwa liberalisasi lebih dari 90 persen tarif melalui I-EAEU FTA merupakan langkah krusial. Meski nilai perdagangan bilateral telah mencapai hampir USD5 miliar pada 2025, ia menilai masih banyak ruang untuk peningkatan melalui diversifikasi perdagangan.
“Kita perlu mendorong keterlibatan yang lebih erat antara komunitas bisnis untuk memperkuat hubungan perdagangan dan investasi,” ungkap Dubes Tavares.
Duta Besar Federasi Rusia untuk Republik Indonesia, Sergey Tolchenov, turut menegaskan bahwa dimensi ekonomi adalah pilar utama hubungan bilateral. Ia menyoroti potensi besar kerja sama di sektor pertanian, industri halal, teknologi informasi, infrastruktur, hingga pertambangan.
Pertemuan ini diharapkan menghasilkan langkah konkret yang akan dibawa dalam pertemuan lanjutan di Kazan, Federasi Rusia, pada Mei mendatang.
Editor: Redaksi TVRINews
