
Presiden AS Donald Trump berbicara dengan wartawan sebelum menaiki Air Force One di Joint Base Andrews, Maryland, pada 10 April 2026. [Foto: Matt Rourke/AP]
Penulis: Fityan
TVRINews – Washington
Trump tegaskan Selat Hormuz harus bebas dari sistem pungutan paksa demi stabilitas energi global.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan keyakinannya bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka dalam waktu dekat, dengan atau tanpa bantuan Iran.
Pernyataan ini muncul di tengah blokade efektif Teheran terhadap jalur pelayaran vital tersebut yang terus mengganggu pasokan energi global.
Berbicara kepada awak media pada Jumat 10 April 2026 waktu setempat sebelum keberangkatannya menuju pangkalan militer Joint Base Andrews, Trump menegaskan komitmen AS untuk memulihkan stabilitas di Teluk.
Ia mengklaim bahwa sejumlah negara lain telah menyatakan kesiapannya untuk membantu pembukaan kembali jalur tersebut.
"Ini tidak akan mudah. Namun, saya katakan ini: kami akan membukanya dalam waktu yang cukup singkat," ujar Trump sesaat sebelum menaiki Air Force One.
Penolakan terhadap Sistem Retribusi
Fokus utama ketegangan saat ini bergeser pada indikasi Teheran yang berniat memberlakukan sistem "gerbang tol" atau biaya keamanan bagi kapal-kapal yang melintas, bahkan jika kesepakatan damai tercapai. Trump secara tegas menolak gagasan tersebut.

(Presiden AS Donald Trump berbicara dengan wartawan sebelum menaiki Air Force One di Joint Base Andrews, Maryland, pada 10 April 2026. [Foto: Win McNamee/Getty Images])
"Jika mereka melakukan itu, kami tidak akan membiarkannya terjadi," tegas Trump.
Bagi Washington, prioritas utama dalam setiap perjanjian tetaplah memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir.
Trump berargumen bahwa jika isu nuklir terselesaikan, akses Selat Hormuz akan terbuka secara otomatis demi kepentingan ekonomi semua pihak.
"Tanpa senjata nuklir, itu adalah 99 persen dari target utama. Selebihnya, selat akan terbuka. Jika tidak, mereka (Iran) tidak akan menghasilkan uang," tambahnya.
Lumpuhnya Arus Energi Global
Meski gencatan senjata selama dua minggu telah diumumkan sejak Selasa lalu, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih berada pada titik nadir. Jalur yang dilalui seperlima pasokan minyak dan gas alam dunia ini praktis masih lumpuh.
Data dari S&P Global Market Intelligence menunjukkan penurunan drastis aktivitas:
• Hanya dua kapal yang melintas pada hari Jumat, turun dari lima kapal pada hari sebelumnya.
• Sejak gencatan senjata dimulai, hanya 22 kapal yang terdeteksi keluar dari selat, angka yang sangat kontras dibandingkan rata-rata 135 transit harian sebelum konflik pecah.
• Laporan Lloyd’s List Intelligence menyebutkan lebih dari 600 kapal, termasuk 325 tanker, masih terjebak di kawasan Teluk.
Diplomasi Tingkat Tinggi di Islamabad
Harapan kini tertuju pada pertemuan di Islamabad, Pakistan, yang dijadwalkan berlangsung hari ini Sabtu 11 April 2026.
Wakil Presiden AS, JD Vance, dan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, akan memimpin negosiasi guna mencari solusi permanen untuk mengakhiri perang.
Kendati demikian, jalan menuju perdamaian masih dibayangi ketidakpastian. Kedua belah pihak dilaporkan masih mengirimkan pesan yang bertentangan mengenai poin-poin negosiasi, termasuk rincian dari "rencana 10 poin" yang diajukan oleh Teheran.
Editor: Redaksi TVRINews
