
Pasukan Inggris di provinsi Helmand, Afghanistan (Foto: The Guardian/Sean Smith)
Penulis: Fityan
TVRINews-London, Inggris
Perdana Menteri Inggris menyebut klaim Presiden AS mengenai peran militer di Afghanistan sebagai penghinaan terhadap pengabdian veteran.
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, meluncurkan teguran keras yang jarang terjadi terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyusul pernyataan sang Presiden yang menyebut pasukan Inggris dan NATO menghindari garis depan selama konflik di Afghanistan.
Dalam pernyataan resminya, Starmer menggambarkan komentar tersebut sebagai sesuatu yang "menghina dan sangat mengerikan." Ia juga mengisyaratkan bahwa Presiden AS seharusnya menyampaikan permohonan maaf atas pernyataan tersebut.
Ketegangan diplomatik ini muncul setelah Trump, dalam wawancara dengan Fox News, mengklaim bahwa pasukan sekutu NATO "menahan diri sedikit di belakang garis depan" selama perang 20 tahun tersebut.
“Saya tidak akan pernah melupakan keberanian dan pengorbanan yang mereka berikan untuk negara ini,” ujar Starmer pada Jumat 23 januari 2026.
“Ada banyak dari mereka yang terluka, beberapa dengan cedera yang mengubah hidup secara permanen. Saya menganggap pernyataan Presiden Trump menghina, dan saya tidak terkejut jika hal itu menyakiti hati keluarga mereka yang gugur.”
Ketika ditanya apakah dirinya mendesak permohonan maaf secara resmi, Starmer menjawab secara diplomatis namun tegas. "Jika saya salah bicara atau mengucapkan kata-kata seperti itu, saya pasti akan meminta maaf."
Gelombang Kecaman Lintas Politik
Pernyataan Trump tidak hanya memicu reaksi dari Downing Street, tetapi juga dari berbagai spektrum politik di Inggris.
Pemimpin Partai Konservatif, Kemi Badenoch, menyebut klaim tersebut sebagai "omong kosong belaka," sementara pemimpin Reform UK, Nigel Farage, menegaskan bahwa pasukan Inggris telah bertempur dengan gagah berani bersama Amerika selama dua dekade.
Kritik tajam juga datang dari kalangan veteran. Peraih Cross Military, Al Carns, menyebut klaim tersebut "sepenuhnya konyol."
Sementara itu, Duke of Sussex, Pangeran Harry, yang pernah bertugas dua kali di garis depan Afghanistan, menekankan bahwa pengorbanan para tentara layak dibicarakan dengan rasa hormat dan kebenaran.
“Saya bertugas di sana. Saya kehilangan teman di sana,” ujar Pangeran Harry. “Ribuan nyawa berubah selamanya. Orang tua menguburkan anak-anak mereka. Pengorbanan mereka harus dihormati.”
Konteks Hubungan Bilateral
Perselisihan ini memperkeruh hubungan London dan Washington yang sebelumnya telah tegang akibat kritik Trump terkait keputusan Inggris menyerahkan Kepulauan Chagos kepada Mauritius. Meski demikian, Starmer tetap menekankan pentingnya hubungan keamanan yang "sangat erat" antara kedua negara.
Data resmi menunjukkan bahwa sebanyak 3.486 tentara NATO tewas dalam konflik Afghanistan, di mana 457 di antaranya adalah personel militer Inggris.
Menanggapi kecaman dari London, juru bicara Gedung Putih, Taylor Rogers, membela pernyataan Trump.
"Presiden Trump sepenuhnya benar Amerika Serikat telah berbuat lebih banyak untuk NATO dibandingkan negara lain dalam aliansi tersebut jika digabungkan," ungkapnya dalam pernyataan resmi pada Jumat malam.
Hingga saat ini, belum ada komunikasi langsung antara Kantor Perdana Menteri Inggris dan pihak Donald Trump untuk meredakan ketegangan tersebut.
Editor: Redaktur TVRINews
