
Foto: The Guardian/Tyrone Siu
Penulis: Fityan
TVRINews – Sydney
Maskapai Global Mulai Sesuaikan Tarif Akibat Gangguan Pasokan Minyak dan Perubahan Rute Internasional.
Sejumlah maskapai penerbangan internasional mulai mengumumkan kenaikan harga tiket seiring dengan berlanjutnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Ketegangan di Timur Tengah tersebut telah mengganggu stabilitas pasokan minyak global dan memaksa pelancong mencari rute alternatif yang menghindari wilayah konflik.
Beberapa maskapai besar seperti Cathay Pacific, AirAsia, Thai Airways, hingga Qantas telah mengonfirmasi penyesuaian tarif.
Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dan terbatasnya akses ke kilang pengolahan, yang memprediksi harga tiket akan tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan.
Strategi Lindung Nilai dan Beban Bahan Bakar
Banyak maskapai kini menghadapi tekanan margin akibat kebijakan hedging atau lindung nilai bahan bakar yang tidak mencakup seluruh biaya produksi avtur.
CEO Cathay Pacific, Ronald Lam, mengungkapkan bahwa perusahaannya hanya melakukan lindung nilai terhadap 30% biaya bahan bakar.
"Mengingat harga bahan bakar jet hampir melonjak dua kali lipat, kami akan segera mengumumkan kenaikan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) baik untuk penumpang maupun kargo," ujar Lam dalam pertemuan bersama investor pada Rabu 11 Maret 2026 lalu.
Kondisi serupa terjadi pada AirAsia yang mulai meningkatkan tarif dan biaya tambahan secara temporer. Sementara itu, otoritas Thai Airways memproyeksikan adanya kenaikan harga tiket pada kisaran 10% hingga 15%.
Gangguan Operasional dan Perubahan Rute
Konflik ini tidak hanya berdampak pada harga bahan bakar, tetapi juga pada logistik penerbangan.
Pembatalan penerbangan di zona Timur Tengah telah mendorong lonjakan permintaan pada rute alternatif, terutama jalur dari Australia menuju Eropa dan India ke Amerika Serikat.
Analis penerbangan dari Cirium, Ellis Taylor, menjelaskan bahwa rute jarak jauh dengan jumlah operator terbatas akan mengalami kenaikan harga paling signifikan.
"Koneksi dari Australia menuju Eropa, Amerika Utara, dan Asia Utara kemungkinan akan mengalami kenaikan harga lebih cepat dan lebih tinggi," kata Taylor.
Namun, ia menambahkan bahwa rute domestik atau jarak pendek mungkin tidak terdampak seberat rute internasional.
Rekomendasi bagi Calon Penumpang
Pakar transportasi dari University of Sydney, Profesor Rico Merkert, menyarankan para calon penumpang yang berencana terbang dalam waktu dekat untuk segera melakukan pemesanan guna menghindari kenaikan tarif hingga 30%.
"Ini bukan sekadar upaya mencari keuntungan besar, bagi sebagian maskapai, ini adalah cara untuk bertahan hidup di tengah krisis," ungkap Merkert.
Meski demikian, bagi mereka yang berencana terbang pada bulan September atau setelahnya, ia menyarankan untuk memantau situasi dalam dua minggu ke depan sebelum memutuskan pembelian.
Data dari situs pemesanan WebJet menunjukkan tren perubahan perilaku konsumen, di mana banyak pelancong mulai beralih dari penerbangan jarak jauh ke destinasi domestik atau regional di kawasan Asia-Pasifik demi menekan biaya perjalanan.
Editor: Redaktur TVRINews
