
Warga merayakan sukacita di lingkungan Sheikh Maqsoud di Aleppo, Suriah, 10 Januari 2026 (Foto: Al Jazeera/Khalil Ashawi)
Penulis: Fityan
TVRINews- Aleppo, Suriah
Penarikan unit tempur Kurdi berlangsung setelah kesepakatan gencatan senjata guna mengakhiri bentrokan mematikan.
Seluruh unit tempur Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin kelompok Kurdi dilaporkan telah meninggalkan kota Aleppo pada Minggu 11 Januari 2026.
Langkah ini menandai berakhirnya konfrontasi bersenjata selama beberapa hari terakhir setelah militer Suriah mengambil alih kendali penuh atas wilayah-wilayah strategis di kota tersebut.
Gubernur Aleppo, Azzam al-Gharib, mengonfirmasi bahwa evakuasi telah rampung setelah adanya koordinasi penarikan menggunakan bus-bus khusus sepanjang malam.
Baca Juga: Protes Iran: Demonstran Hadapi Tindakan Keras Rezim
Menurutnya, pembersihan wilayah dari elemen bersenjata merupakan prioritas untuk memulihkan keamanan warga sipil.
"Aleppo kini telah kosong dari pejuang SDF," ujar Al-Gharib kepada Al Jazeera. Ia menambahkan bahwa fokus pemerintah saat ini adalah memfasilitasi "kembalinya para pengungsi ke rumah mereka masing-masing."
Eskalasi dan Kegagalan Diplomasi
Ketegangan di kota terbesar kedua di Suriah ini memuncak setelah pembicaraan mengenai integrasi SDF ke dalam jajaran tentara nasional menemui jalan buntu.
Kegagalan negosiasi tersebut memicu pertempuran sengit, khususnya di lingkungan Sheikh Maqsoud yang selama ini menjadi basis kuat komunitas Kurdi.
Data lapangan menunjukkan dampak kemanusiaan yang signifikan akibat konflik singkat namun intens ini:
• Korban Jiwa: Sedikitnya 30 orang dilaporkan tewas dalam baku tembak.
• Pengungsian: Lebih dari 150.000 warga terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka.
• Status Wilayah: Militer Suriah kini memegang kendali penuh atas Sheikh Maqsoud.
Langkah evakuasi ini dipandang sebagai upaya untuk mencegah pertumpahan darah lebih lanjut di wilayah perkotaan yang padat penduduk.
Meskipun SDF telah mundur, situasi di Suriah utara tetap menjadi perhatian komunitas internasional mengingat kompleksitas aliansi dan kepentingan berbagai faksi di wilayah tersebut.
Editor: Redaktur TVRINews
