
Sejumlah umat menyalakan dupa di sebuah kuil jelang Tahun Baru Imlek di Hong Kong, Tiongkok (Al JAzeera/Tyrone Siu)
Penulis: Fityan
TVRINews- Beijing
Pemerintah Tiongkok menargetkan pemulihan ekonomi melalui lonjakan belanja domestik selama perayaan Tahun Baru Imlek
Sekitar 1,4 miliar masyarakat di seluruh dunia mulai merayakan Tahun Baru Imlek pada Selasa (17 Februari 2026, menandai transisi menuju Tahun Kuda Api. Di tengah kemeriahan kembang api dan tradisi leluhur, perhatian global kini tertuju pada potensi dampak ekonomi dari festival tahunan terbesar di negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.
Festival Musim Semi, sebagaimana dikenal di daratan Tiongkok, memicu migrasi manusia tahunan terbesar di planet ini yang disebut Chunyun. Tahun ini, pemerintah Tiongkok memproyeksikan rekor baru dengan total 9,5 miliar perjalanan penumpang selama periode 40 hari, meningkat dari sembilan miliar perjalanan pada tahun sebelumnya.
Dorongan Konsumsi Domestik
Bagi Beijing, momentum ini bukan sekadar perayaan budaya. Di tengah upaya memperkuat struktur ekonomi yang selama ini digerakkan oleh ekspor, konsumsi domestik menjadi kunci utama. Sektor ritel, hiburan, dan pariwisata melaporkan lonjakan aktivitas yang signifikan.
Sebagai langkah konkret, pemerintah telah menerbitkan voucer konsumen senilai lebih dari 360 juta yuan ($52 juta) pada bulan ini.

(Suasana toko mainan saat imlek, di Yiwu, provinsi Zhejiang, Tiongkok (Foto: Al Ja zeera/Nicoco Chan)
"Tahun Baru Imlek bukan hanya peristiwa budaya, tetapi juga pilar ekonomi yang mendorong lonjakan konsumsi di berbagai sektor," lapor Reuters mengutip kebijakan ekonomi terbaru Tiongkok.
Simbolisme Kuda Api
Dalam zodiak Tiongkok, Tahun Kuda Api yang terjadi setiap 60 tahun sekali—diyakini membawa energi besar dan perubahan yang tidak terduga. Elemen "Bing" atau matahari besar yang berpasangan dengan Kuda kali ini terakhir kali muncul pada tahun 1966.
"Bagi mereka yang mempercayai zodiak Tiongkok, Tahun Kuda Api melambangkan ledakan energi dan kemandirian, dengan penyesuaian yang mungkin sulit diprediksi," tulis ulasan mengenai karakter astrologi tahun ini.
Kemeriahan ini tidak terbatas di daratan Tiongkok. Dari Kuala Lumpur hingga San Francisco, komunitas diaspora merayakan hari raya ini dengan tradisi unik. Di Vietnam, warga merayakan Tet Nguyen Dan, sementara di Korea Selatan, Seollal menjadi momen penghormatan kepada leluhur.
Menariknya, budaya populer Barat turut mewarnai tren tahun ini. Nama karakter antagonis dalam seri Harry Potter, Draco Malfoy, menjadi maskot tak resmi yang populer.
Dalam bahasa Mandarin, "Malfoy" dieja secara fonetik sebagai “ma er fu”. Karakter pembuka “ma” berarti kuda, sementara karakter penutup “fu” melambangkan keberuntungan atau berkah.
Dengan masa libur resmi yang diperpanjang menjadi sembilan hari, para analis memprediksi bahwa perputaran uang selama festival ini akan menjadi indikator krusial bagi ketahanan ekonomi Tiongkok di tahun 2026.
Editor: Redaksi TVRINews
