
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un saat program berita di Stasiun Kereta Api Seoul di Seoul, Korea Selatan (Foto: AP News)
Penulis: Fityan
TVRINews, Seoul
Pyongyang batasi bantuan senjata demi membuka celah diplomasi baru dengan Amerika Serikat.
Korea Utara dilaporkan mulai menarik diri dari kemitraan jangka panjangnya dengan Iran. Langkah strategis ini diyakini sebagai upaya Pyongyang untuk memposisikan diri dalam babak diplomasi baru dengan Amerika Serikat (AS) di masa depan.
Badan Intelijen Nasional Korea Selatan (NIS) mengungkapkan bahwa tidak ditemukan indikasi pengiriman senjata atau pasokan militer dari Pyongyang ke Teheran sejak eskalasi konflik antara AS-Israel dan Iran pecah pada akhir Februari lalu.
Laporan ini disampaikan oleh anggota parlemen Korea Selatan, Park Sun-won yang dikutip oleh AP News, usai menghadiri pengarahan tertutup dengan NIS . Analisis intelijen menunjukkan adanya perubahan nada politik yang signifikan dari rezim Kim Jong Un.
Pergeseran Retorika Politik
Berbeda dengan sekutu Iran lainnya seperti China dan Rusia yang vokal dalam menyuarakan pernyataan keras, Kementerian Luar Negeri Korea Utara terpantau hanya merilis dua pernyataan dengan nada yang jauh lebih tenang.
Meskipun Pyongyang mengutuk serangan AS dan Israel sebagai tindakan ilegal, mereka tidak menyampaikan belasungkawa publik atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Selain itu, tidak ada pesan ucapan selamat yang dikirimkan saat putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, naik takhta menggantikan ayahnya.
"Pyongyang kemungkinan besar mengadopsi pendekatan hati-hati ini untuk menempatkan diri mereka dalam babak diplomatik baru dengan AS setelah konflik Timur Tengah mereda," ujar Park Sun-won mengutip laporan NIS.
Suksesi dan Dinamika Internal
Di sisi lain, intelijen Seoul juga meyakini bahwa Kim Jong Un mulai mempersiapkan putri remajanya, Kim Ju Ae, sebagai calon pewaris takhta.
Hal ini didasarkan pada dokumentasi publik terbaru yang memperlihatkan remaja berusia 13 tahun tersebut sedang mengendarai tank militer.
NIS menilai citra tersebut sengaja dirancang untuk menonjolkan bakat militer Ju Ae, menyerupai pola suksesi Kim Jong Un saat dipersiapkan menggantikan ayahnya pada awal 2010-an.
Sementara itu, adik perempuan Kim yang berpengaruh, Kim Yo Jong, justru memberikan respons mengejutkan terhadap politik regional.
Pada Senin 6 April 2026, ia menyambut baik permintaan maaf Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, terkait insiden intrusi pesawat nirawak (drone) pada Januari lalu.
"Presiden Republik Korea secara pribadi menyatakan penyesalan dan membahas langkah pencegahan keberulangan. Pemerintah kami mengapresiasi hal ini sebagai perilaku yang sangat beruntung dan bijaksana," kata Kim Yo Jong dalam pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita resmi KCNA.
Upaya Rekonsiliasi Seoul
Permintaan maaf Presiden Lee menandai pergeseran besar dalam hubungan antar-Korea. Lee, yang menjabat sejak tahun lalu, secara terbuka mengkritik kebijakan pendahulunya dan berupaya memperbaiki ikatan yang retak.
"Kami menyatakan penyesalan kepada Utara atas ketegangan militer yang tidak perlu, yang disebabkan oleh tindakan tidak bertanggung jawab dari beberapa individu," ungkap Presiden Lee.
Meskipun Kim Jong Un sebelumnya sempat melabeli Seoul sebagai "negara paling bermusuhan" pada Maret lalu, respons positif dari Kim Yo Jong memberikan sinyal langka mengenai kemungkinan mencairnya ketegangan di Semenanjung Korea di tengah pergeseran geopolitik global yang lebih luas.
Editor: Redaksi TVRINews
