
Zelensky Siap Bertemu Putin, Asal Rusia Setuju Gencatan Senjata
Penulis: Fityan
TVRINews – Kiev
Ukraina minta gencatan senjata 30 hari tanpa syarat sebelum negosiasi dimulai.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan kesiapannya untuk melakukan pertemuan langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, namun hanya jika Moskow terlebih dahulu menyetujui gencatan senjata penuh, tanpa syarat, yang dimulai pada 12 Mei.
“Tidak ada gunanya melanjutkan pembunuhan, bahkan satu hari pun. Kami mengharapkan Rusia mengonfirmasi gencatan senjata— penuh, permanen, dan dapat diandalkan—mulai besok, 12 Mei, dan Ukraina siap untuk bertemu,” tulis Zelensky dalam unggahan di platform X pada Minggu pagi.
Pernyataan ini merupakan respons atas usulan Putin sebelumnya yang menyebut kesiapan Rusia untuk melakukan perundingan di Istanbul, Turki, pada Kamis mendatang. Namun, Kepala Staf Kepresidenan Ukraina, Andriy Yermak, mempertegas bahwa syarat utama pertemuan adalah gencatan senjata 30 hari lebih dulu. “Pertama gencatan senjata 30 hari, baru yang lainnya,” tulis Yermak di Telegram.
Tuntutan gencatan senjata ini telah ditegaskan saat kunjungan empat pemimpin Eropa—Inggris, Prancis, Jerman, dan Polandia ke Kyiv pada Sabtu lalu. Dalam kunjungan tersebut, mereka bersama Zelensky menghubungi Presiden AS Donald Trump sebelum menyampaikan pernyataan pers bersama.
Menanggapi tuntutan itu, Putin melalui pernyataan yang dibacakan di Kremlin pada Minggu (11/5) pukul 2 dini hari waktu Moskow, mengklaim bahwa Ukraina telah melanggar gencatan-gencatan sebelumnya. Namun, ia tetap mengusulkan perundingan di Istanbul dengan
mengatakan, “Kami siap untuk pembicaraan serius dan ingin menyelesaikan akar konflik ini.” Kutip The Guardian
Nada bicara Putin dianggap sebagai upaya untuk menolak tuntutan Eropa namun tetap terlihat konstruktif di mata pemerintahan Trump, yang sebelumnya cenderung lebih lunak terhadap Moskow. Putin bahkan menyampaikan terima kasih atas upaya pemerintah AS yang baru dalam menyelesaikan konflik.
Respons awal dari Presiden Trump di platform Truth Social tampaknya mengindikasikan bahwa pendekatan Putin berhasil. “Hari yang mungkin luar biasa bagi Rusia dan Ukraina! Pikirkan ratusan ribu nyawa yang dapat diselamatkan jika pertumpahan darah ini benar-benar berakhir,” tulisnya.
Namun, tidak semua pemimpin dunia sejalan. Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan bahwa tidak ada pembicaraan apa pun yang bisa dilakukan selama Rusia belum setuju pada gencatan senjata total. “Tidak ada dialog jika senjata masih berbicara,” tegas Macron.
Sementara itu, Eropa dan Ukraina mendesak agar negosiasi hanya bisa dimulai setelah pertempuran dihentikan sepenuhnya dan membahas penyelesaian damai termasuk kemungkinan penempatan pasukan pengawas dari Eropa.
Namun, Kremlin tampaknya masih menolak ide gencatan senjata tanpa syarat dan lebih memilih mempertahankan tekanan militer guna memaksa Ukraina menerima sejumlah tuntutan lama, termasuk pengakuan wilayah pendudukan dan jaminan politik serta militer.1
Dalam beberapa jam setelah pidato Putin, Rusia meluncurkan lebih dari 100 drone ke wilayah Ukraina, menyusul berakhirnya gencatan senjata sepihak selama tiga hari yang sebelumnya diumumkan dalam rangka peringatan 80 tahun kemenangan dalam Perang Dunia II.
Kondisi ini menunjukkan bahwa diplomasi berjalan cepat, tetapi posisi fundamental kedua belah pihak belum banyak berubah. Masa depan perundingan kini sangat bergantung pada sikap Presiden Trump dan kekuatan diplomasi Eropa dalam membentuk konsensus.
Editor : Redaksi TVRINews
Editor: Redaksi TVRINews
