Penulis: Fityan
TVRINews – Amman,Jordania
Bagaimana sebuah wilayah yang padat penduduknya berubah menjadi 'kuburan puing' dan siapa yang bertanggung jawab, dilihat langsung dari pesawat militer.
Dari ketinggian 2.000 kaki, Gaza terlihat seperti sisa-sisa peradaban kuno yang baru saja digali. Namun, kehancuran ini bukan ulah waktu, melainkan akibat dari kampanye militer yang intens. Sebuah misi kemanusiaan langka yang diikuti oleh jurnalis The Guardian, memberikan gambaran mengerikan tentang bagaimana Gaza yang tadinya ramai, kini berubah menjadi lanskap puing-puing.
Berdasarkan laporan, dari atas pesawat militer Yordania, terlihat jelas bagaimana seluruh permukiman rata dengan tanah, jalanan dipenuhi kawah, dan bangunan-bangunan hancur berkeping-keping. Pemandangan ini, kata jurnalis The Guardian, terlihat seperti "akibat dari kiamat."

Bantuan palet berparasut turun setelah dijatuhkan dari pesawat militer di atas Nuseirat.(foto : The Guardian)
Pesawat tersebut membawa 3 ton bantuan kemanusiaan jumlah yang sangat kecil jika dibandingkan dengan kebutuhan yang mendesak. Militer Yordania mengatakan bahwa mereka telah melakukan 140 operasi airdrop, dan 293 operasi tambahan bekerja sama dengan negara lain, untuk menyalurkan total 325 ton bantuan ke Gaza sejak 27 Juli.
Namun, metode pengiriman bantuan melalui udara ini dikritik keras oleh berbagai pihak karena dianggap tidak efisien, mahal, dan berbahaya. Tahun lalu, setidaknya 12 orang tenggelam saat mencoba mengambil bantuan yang jatuh ke laut, dan lima lainnya tewas karena tertimpa palet bantuan.
Dari udara, terlihat pula Deir al-Balah, tempat Yaqeen Hammad, seorang influencer media sosial berusia 11 tahun, tewas dalam serangan udara. Di Khan Younis, terlihat puing-puing rumah Dr. Alaa al-Najjar, seorang dokter anak yang kehilangan suami dan sembilan dari sepuluh anaknya dalam serangan udara saat ia sedang bekerja.
"Sangat mengejutkan betapa kecilnya Gaza," tulis The Guardian. Wilayah ini menjadi panggung bagi salah satu konflik paling berdarah di dunia, dengan lebih dari 60.000 orang tewas dan ribuan lainnya diperkirakan terkubur di bawah puing-puing, menurut otoritas kesehatan setempat.
Selama penerbangan, jurnalis The Guardian menerima pesan dari rekan mereka di Gaza, Malak A Tantesh, seorang jurnalis dan penyintas yang telah kehilangan rumah dan kerabatnya. "Perasaan aneh dan menghantui," tulis jurnalis itu, "menerima pesan dari dia saat pesawat terbang di atas."
Sebelum kembali ke Yordania, seorang tentara menunjuk ke arah Rafah, yang juga hancur lebur dan menjadi lokasi tewasnya ratusan orang akibat perebutan makanan dan serangan udara.
Editor : Redaksi TVRINews
Editor: Redaksi TVRINews
