
Protes pecah di Teheran, ibu kota Iran (Foto: BBC News)
Penulis: Fityan
TVRINews – Teheran
Aksi massa di Teheran dan Mashhad memicu pemutusan komunikasi total oleh pemerintah.
Gelombang demonstrasi besar melanda berbagai kota di Iran, termasuk ibu kota Teheran, pada Kamis 8 Januari 2026.
Aksi yang memasuki malam ke-12 ini menandai eskalasi protes anti-pemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir, yang dipicu oleh krisis ekonomi dan anjloknya nilai mata uang negara tersebut.
Grup pemantau internet, NetBlocks, mengonfirmasi terjadinya "pemadaman internet nasional" di tengah berlangsungnya aksi massa. Langkah ini dinilai sebagai upaya otoritas setempat untuk membatasi ruang gerak demonstran serta memutus aliran informasi ke dunia luar.
Eskalasi di Pusat Kota
Video yang telah diverifikasi oleh BBC Persian menunjukkan ribuan massa memenuhi jalan-jalan utama di Teheran dan kota terbesar kedua, Mashhad.
Dalam rekaman tersebut, para demonstran terdengar meneriakkan slogan-slogan yang menargetkan kepemimpinan tertinggi negara, termasuk seruan pengembalian takhta kepada putra mendiang Shah Iran yang kini berada di pengasingan, Reza Pahlavi.
Meskipun media pemerintah Iran cenderung meremehkan skala protes dan melaporkan kondisi jalanan yang tenang, laporan dari organisasi hak asasi manusia menunjukkan realitas yang berbeda.
Menurut Human Rights Activist News Agency (HRANA), setidaknya 34 pengunjuk rasa, termasuk lima anak-anak, dilaporkan tewas dalam rangkaian kerusuhan ini.
Sementara itu, kelompok Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia mencatat jumlah korban jiwa telah mencapai sedikitnya 45 orang.
Melalui pernyataan resmi di platform X, Reza Pahlavi memuji keberanian warga Iran yang disebutnya sebagai "rekan senegara yang gagah berani." Ia menuduh pemerintah sengaja memutus jalur komunikasi untuk membungkam suara rakyat.
"Jutaan warga Iran menuntut kebebasan mereka malam ini. Sebagai tanggapan, rezim telah memutus semua jalur komunikasi, mematikan internet, dan telepon rumah," ujar Pahlavi dalam pernyataan resminya.
Ia juga mendesak para pemimpin dunia, khususnya di Eropa, untuk mengambil langkah diplomatik dan teknis guna membantu memulihkan akses internet bagi warga Iran.
Respon Internasional
Menanggapi situasi yang kian memanas, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menegaskan peringatannya kepada otoritas Iran.
Melalui pernyataan publik, ia mengancam akan memberikan respon keras jika pasukan keamanan pemerintah terus melakukan tindakan kekerasan fatal terhadap para pengunjuk rasa.
Hingga berita ini diturunkan, kendali komunikasi di Iran masih sangat terbatas. Para analis menilai bahwa pemadaman internet ini merupakan strategi sensor digital yang eskalatif guna meredam aksi yang kini telah menyebar ke lebih dari 100 kota di seluruh provinsi di Iran.
Editor: Redaktur TVRINews
