
Kondisi wilayah Jabaliya, pinggiran Kota Gaza, usai bentrok antara Kelopok Milisi Isral dan pejuang Hamas. (Foto: Anadolu)
Penulis: Fityan
TVRINews – Gaza Strip
Kelompok Bersenjata Perluas Operasi dan Kekuatan Tempur di Jalur Gaza
Eskalasi ketegangan baru muncul di tengah berkecamuknya konflik regional. Sejumlah milisi Palestina yang didukung oleh Israel dilaporkan meningkatkan frekuensi operasi militer, infiltrasi, dan upaya pembunuhan terhadap elemen-elemen Hamas di wilayah Gaza Jumat 13 Maret 2026.
Langkah ini menandai babak baru dalam dinamika keamanan di wilayah tersebut, di mana kelompok-kelompok bersenjata yang berbasis di zona kontrol Israel di timur Gaza mulai merangsek jauh ke dalam teritorial yang dikuasai Hamas.
Peningkatan Kekuatan dan Logistik
Sejak gencatan senjata yang dimediasi internasional berlaku pada Oktober lalu, milisi seperti Popular Forces dan Strike Force Against Terror tercatat menerima dukungan logistik signifikan.
Meski kekuatan kolektif mereka diperkirakan hanya berjumlah beberapa ratus personel, daya gempur mereka menunjukkan peningkatan tajam dalam beberapa pekan terakhir.
Nasser Khdour, pengamat dari lembaga pemantau konflik independen ACLED, menyatakan bahwa kelompok-kelompok ini kian berpengalaman.
"Milisi ini terus merekrut anggota dan menjadi lebih aktif melawan Hamas, terutama di wilayah Rafah. Mereka tampaknya mendapatkan daya tawar lebih besar dengan kapabilitas yang meningkat," ujar Khdour.
Operasi Lintas Batas dan Infiltrasi
Di bagian utara Gaza, kelompok Ashraf al-Mansi dilaporkan telah menyeberangi "garis kuning"—batas demarkasi zona kontrol—untuk melakukan penyergapan terhadap patroli Hamas.
Di wilayah selatan, Popular Forces yang berbasis di reruntuhan Rafah juga terlibat dalam operasi pembersihan terowongan dan pengamanan perbatasan menuju Mesir.
Namun, keterlibatan milisi ini memicu kekhawatiran hak asasi manusia. Kantor Hak Asasi Manusia PBB (OHCHR) baru-baru ini memperingatkan adanya pola penganiayaan dan pelecehan terhadap warga yang kembali ke wilayah tersebut, yang diduga dilakukan oleh pasukan bersenjata Palestina binaan militer Israel.
Respons Hamas dan Dampak Kemanusiaan
Hamas, yang saat ini masih menguasai sebagian besar wilayah pesisir dengan populasi 2,3 juta jiwa, bereaksi keras terhadap fenomena ini. Juru bicara Hamas menyebut para milisi tersebut sebagai "kolaborator" dan berjanji akan melakukan pembersihan total. Bentrokan fisik antara polisi Hamas dan anggota milisi dilaporkan terjadi di beberapa titik, termasuk di Jabaliya dan Kota Gaza.
Data ACLED menunjukkan tren kekerasan yang terus menanjak, dengan total serangan mencapai 1.664 insiden hingga pertengahan Maret.
Di sisi lain, serangan udara Israel tetap berlanjut di tengah konflik paralel dengan Iran, yang mengakibatkan sedikitnya 16 warga Palestina tewas sejak akhir Februari menurut otoritas kesehatan setempat.
Tantangan Stabilisasi Regional
Kehadiran milisi bersenjata ini menambah kerumitan rencana pembentukan pasukan stabilisasi internasional di Gaza.
Pakar hubungan internasional dari King’s College London, Tahani Mustafa, menilai bahwa aktivitas milisi ini justru berisiko menjadi bumerang.
"Masalahnya adalah kelompok-kelompok ini tidak hanya terlibat dalam tindakan kriminal, tetapi juga beroperasi bersama kekuatan pendudukan yang bertanggung jawab atas kehancuran massal. Hal ini secara tidak sengaja memberikan dorongan popularitas bagi Hamas, bukan karena ideologi, tetapi karena ketiadaan alternatif lain bagi warga," jelas Mustafa yang dikutip The Guardian.
Hingga saat ini, Hamas terpantau menahan diri dari keterlibatan langsung dalam konflik Iran-Israel yang lebih luas, dan lebih memilih fokus pada upaya mempertahankan kendali internal di Gaza dari rongrongan kelompok milisi tersebut.
Editor: Redaktur TVRINews
