
"Warga Palestina yang mengungsi dari Jabaliya membawa barang-barang mereka di sebuah jalan di Kota Gaza, pada Selasa, 26 Agustus 2025. (AP Photo/Jehad Alshrafi)"
Penulis: Fityan
TVRINews – Geneva, Swiss
PBB menuntut akuntabilitas atas serangan ‘double-tap’ yang menewaskan 20 orang.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak Israel untuk memastikan bahwa investigasi terhadap penembakan di Gaza, termasuk serangan "double-tap" yang menghancurkan Rumah Sakit Nasser, membuahkan hasil dan membawa pelakunya ke pengadilan. Serangan itu menewaskan 20 orang, termasuk lima jurnalis.
"Harus ada keadilan," tegas Thameen Al-Kheetan, juru bicara kantor hak asasi manusia PBB, kepada wartawan di Jenewa, Selasa.(26/8) menambahkan, tingginya jumlah jurnalis yang tewas di Gaza menimbulkan banyak pertanyaan tentang penargetan terhadap pekerja media.
Pada Senin (26/8) , Israel menyerang Rumah Sakit Nasser dua kali. Saksi mata mengatakan serangan kedua terjadi 15 menit setelah yang pertama, saat tim penyelamat dan jurnalis tiba untuk mengevakuasi korban. Akibatnya, petugas medis dan pekerja media turut menjadi korban.
Serangan "double-tap" ini menewaskan jurnalis dari Reuters, Associated Press, dan Al Jazeera, serta jurnalis independen. Insiden ini memicu kecaman global. Pihak Israel, melalui kantor perdana menterinya, menyatakan "sangat menyesali insiden tragis" itu dan menegaskan militer Israel sedang melakukan investigasi.
Militer Israel merilis hasil awal investigasi pada Selasa (26/8) , mengklaim bahwa tentara menargetkan kamera yang digunakan Hamas untuk mengawasi militer Israel. Mereka juga menyebut enam dari korban tewas adalah "teroris". Namun, pernyataan ini gagal menjawab pertanyaan mendasar mengapa Israel melakukan serangan kedua terhadap petugas medis dan jurnalis, dan siapa yang akan bertanggung jawab atas pembunuhan warga sipil.
Al-Kheetan mengimbau Israel untuk memastikan investigasi ini menghasilkan akuntabilitas, mengingat investigasi militer Israel sebelumnya sering ditutup tanpa resolusi.
"Pihak berwenang Israel di masa lalu telah mengumumkan investigasi atas pembunuhan semacam itu... Kami belum melihat hasilnya atau langkah-langkah akuntabilitas. Kami menunggu hasilnya dan menyerukan akuntabilitas serta keadilan," katanya.
Sebuah laporan dari Action on Armed Violence (AOAV) menunjukkan bahwa 88% investigasi Israel atas dugaan kejahatan perang di Gaza ditutup atau tidak terselesaikan. Statistik ini, menurut peneliti AOAV, mengindikasikan bahwa Israel sedang menciptakan "pola impunitas".
Konflik ini telah menjadi yang paling mematikan bagi jurnalis. Menurut juru bicara PBB, sedikitnya 247 jurnalis Palestina telah tewas di Gaza selama 22 bulan terakhir, melampaui jumlah jurnalis yang tewas dalam gabungan Perang Dunia I dan II, Perang Vietnam, Perang Yugoslavia, dan Perang AS di Afghanistan.
Aksi protes juga terus berlanjut di seluruh Israel, dengan para demonstran menuntut diakhirinya perang. Mereka khawatir pertempuran yang terus berlangsung membahayakan nyawa sandera yang tersisa.
Meski tekanan internasional dan domestik terus meningkat, Israel tetap berencana untuk menduduki Kota Gaza. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan 75 orang tewas dalam 24 jam terakhir akibat serangan Israel. Para kemanusiaan memperingatkan, kampanye ini akan berdampak buruk bagi satu juta warga di sana yang sudah berada di ambang kelaparan.
Baca juga: Luncurkan Program MBG di SDN 06 Guguak Sarai, Bupati Solok: Terima Kasih Pak Presiden
Editor: Redaksi TVRINews
