
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Foto: BBC News)
Penulis: Fityan
TVRINews – London, Inggris
Ketegangan AS-Iran Meningkat di Tengah Lonjakan Harga Minyak Global dan Ancaman Serangan Balasan
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait eskalasi ketegangan di Timur Tengah.
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Financial Times, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat memiliki kemampuan untuk menguasai sumber daya minyak Iran, termasuk titik distribusi vital di Pulau Kharg.
"Kita bisa dengan mudah mengambil alih pulau itu," ujar Trump merujuk pada Pulau Kharg yang merupakan jantung ekspor energi Iran.
Meski melontarkan ancaman tersebut, ia menambahkan bahwa kesepakatan damai tetap mungkin dicapai "dengan cukup cepat," tanpa merinci mekanisme diplomasi yang dimaksud.
Guncangan Pasar dan Signifikansi Pulau Kharg
Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi di lantai bursa. Harga minyak mentah dunia melonjak hingga melampaui angka $115 per barel saat pasar Asia dibuka pagi ini.
Para analis menilai Pulau Kharg bukan sekadar daratan, melainkan infrastruktur kritikal yang menyalurkan mayoritas ekspor minyak mentah Iran ke pasar global.
Gangguan pada fasilitas ini dianggap sebagai risiko sistemik bagi stabilitas energi dunia, terutama di tengah situasi keamanan yang kian rapuh.
Eskalasi Militer dan Ancaman Balasan
Situasi di lapangan menunjukkan tanda-tanda konfrontasi fisik yang semakin nyata. Teheran melaporkan adanya kerusakan pada infrastruktur energi mereka akibat serangan udara, yang menyebabkan pemadaman listrik di sebagian besar wilayah ibu kota. Namun, otoritas setempat mengeklaim bahwa daya mulai pulih secara bertahap.
Di sisi lain, Israel mengonfirmasi telah mengendalikan kebakaran di sebuah situs industri yang disebut sebagai akibat dari serangan proyektil Iran. Menanggapi tekanan ini, pihak Iran mengeluarkan ancaman perluasan target serangan.
"Pasukan kami sedang menunggu kehadiran pasukan darat Amerika agar kami bisa menghujani mereka dengan api," tegas Ketua Parlemen Iran, menanggapi pengerahan 3.500 tentara AS dan kapal perang ke kawasan tersebut.
Iran juga mengancam akan menyasar institusi pendidikan serta kediaman pejabat tinggi Amerika Serikat dan Israel sebagai bentuk retaliasi.
Upaya Diplomasi di Tengah Kebuntuan
Di tengah gemuruh genderang perang, Pakistan mencoba mengambil peran sebagai mediator. Menteri Luar Negeri Pakistan menyatakan bahwa negaranya sedang bersiap untuk menjadi tuan rumah pembicaraan damai "dalam beberapa hari mendatang."
Meski demikian, hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi baik dari Washington maupun Teheran mengenai kesediaan mereka untuk duduk di meja perundingan.
Ketidakpastian ini membuat komunitas internasional tetap dalam posisi waspada tinggi, mengingat dampak ekonomi dan geopolitik yang dapat ditimbulkan jika konflik terbuka benar-benar pecah di Teluk.
Editor: Redaksi TVRINews
