
Angkatan Laut Amerika Serikat (Foto: BBC News)
Penulis: Fityan
TVRINews - Washington DC
Analisis Kekuatan Logistik dan Kapabilitas Serangan Udara dalam Konflik Berkepanjangan
Di tengah eskalasi yang terus meningkat, narasi peperangan kini bergeser dari sekadar adu kekuatan di medan tempur menjadi adu ketahanan logistik dan stok persenjataan.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim bahwa negaranya memiliki pasokan senjata utama yang "hampir tidak terbatas".
Sebaliknya, Kementerian Pertahanan Iran menegaskan bahwa mereka memiliki "kapasitas untuk melawan musuh" lebih lama dari yang diperkirakan Washington.
Meskipun jumlah stok senjata bukan satu-satunya penentu hasil akhir mengingat dinamika di Ukraina di mana Kyiv terus bertahan meski kalah jumlah personel dan persenjataan dari Rusia, faktor ini tetap menjadi variabel krusial.
Tingginya tempo operasional sejak awal konflik memaksa kedua belah pihak mengonsumsi amunisi lebih cepat daripada kemampuan produksi mereka.
Penyusutan Intensitas Serangan Iran
Berdasarkan Catatan Lembaga Studi Keamanan Nasional (INSS) yang berbasis di Tel Aviv mengestimasi bahwa AS dan Israel telah melancarkan lebih dari 2.000 serangan udara.
Di sisi lain, Iran tercatat telah meluncurkan 571 rudal dan 1.391 pesawat tanpa awak (drone), yang sebagian besar berhasil dicegat.

(Jangkauan rudal balistik Iran (Grafis: BBC News))
Pejabat Barat mulai melihat adanya penurunan signifikan dalam intensitas serangan Iran. Dari ratusan rudal yang ditembakkan pada hari pertama, kini jumlahnya menurun menjadi puluhan saja.
Komandan tertinggi militer AS, Jenderal dan Caine, mengungkapkan pada Rabu 4 Maret 2026 bahwa peluncuran rudal balistik Iran turun 86% dibandingkan hari pertama konflik.
Komando Pusat AS (Centcom) juga mencatat penurunan sebesar 23% hanya dalam 24 jam terakhir.
"Iran tampaknya kesulitan untuk mempertahankan tempo operasi yang tinggi," ujar Caine. Hal ini mengindikasikan bahwa penurunan tersebut bisa jadi merupakan upaya Teheran untuk menghemat stok yang tersisa, atau cerminan dari rusaknya infrastruktur produksi mereka akibat supremasi udara AS dan Israel saat ini.
Tantangan Geografis dan Strategi 'Hunting'
Meskipun AS mengklaim telah menghancurkan sebagian besar pertahanan udara Iran, melumpuhkan total kemampuan tempur Teheran bukanlah perkara mudah.
Iran memiliki luas wilayah tiga kali lipat dari Prancis, memberikan banyak ruang untuk menyembunyikan persenjataan dari pantauan satelit.

(Cara Kerja Sistem Rudal Patriot (Grafis BBC News))
Centcom menyatakan fase berikutnya akan difokuskan pada "perburuan" peluncur rudal, drone, gudang senjata, hingga pabrik manufakturnya.
Namun, sejarah mencatat keterbatasan serangan udara: Israel belum sepenuhnya melumpuhkan Hamas di Gaza setelah tiga tahun pemboman intensif, dan pemberontak Houthi di Yaman tetap bertahan meski menghadapi kampanye udara AS selama setahun.
Dominasi dan Dilema Logistik Amerika
Amerika Serikat tetap merupakan kekuatan militer paling perkasa di dunia dengan cadangan senjata konvensional terdalam.
Namun, ketergantungan pada senjata berpemandu presisi yang mahal dan diproduksi dalam jumlah terbatas mulai menunjukkan titik tekan.
Laporan mengenai rencana Presiden Trump untuk bertemu dengan kontraktor pertahanan akhir pekan ini menjadi sinyal bahwa sumber daya AS pun mulai terbebani.
Mark Cancian, mantan kolonel Marinir AS dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), menjelaskan adanya perubahan taktik AS.
"AS kini beralih dari senjata jarak jauh yang mahal seperti rudal jelajah Tomahawk ke senjata 'stand-in' yang lebih ekonomis seperti bom JDAM yang dijatuhkan langsung di atas target," ungkap Cancian yang dikutip BBC News.
Ia menambahkan bahwa dengan metode ini, AS dapat mempertahankan level pertempuran "hampir tanpa batas waktu."
Pertahanan Udara: Titik Lemah yang Mahal
Meski stok bom udara melimpah, sistem pertahanan udara menjadi isu yang lebih sensitif. Rudal pencegat Patriot, yang masing-masing berharga lebih dari US$4 juta (sekitar Rp63 miliar), kini sangat diminati tidak hanya oleh AS, tetapi juga sekutu Arab dan Ukraina.
Dengan produksi tahunan AS yang hanya mencapai sekitar 700 unit, stok ini rentan terkuras jika Iran masih mampu meluncurkan rudal balistik secara konsisten.
"Jika Presiden Trump bersedia mengurangi cadangan Patriot, kita bisa bertahan lebih lama dari Iran, namun itu akan membawa risiko besar pada potensi konflik di Pasifik di masa depan," tambah Cancian.
Editor: Redaksi TVRINews
