
Antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar (SPBU).Dhaka di Bangladesh (Foto: BBC News)
Penulis: Fityan
TVRINews – Bangladesh
Laporan Khusus: Ketegangan AS-Israel dan Iran memicu lonjakan harga minyak dunia hingga $100 per barel, mengancam stabilitas ekonomi kawasan Asia Tenggara.
Eskalasi konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah menyingkap fakta krusial mengenai betapa rentannya stabilitas dunia terhadap pasokan energi dari kawasan Teluk.
Sejak pecahnya bentrokan, harga minyak mentah melonjak tajam dan kini diperdagangkan di level $100 per barel, naik lebih dari sepertiga dari harga sebelumnya.
Kenaikan drastis ini dipicu oleh serangkaian serangan udara yang menyasar infrastruktur energi dan jalur pelayaran komersial.
Situasi semakin genting menyusul penutupan efektif Selat Hormuz, jalur air vital yang menyalurkan seperlima pasokan minyak global.
Dampak Sistemik di Asia
Dampak krisis ini paling dirasakan di Benua Asia. Data menunjukkan bahwa tahun lalu, hampir 90% dari total minyak dan gas yang melintasi Selat Hormuz ditujukan untuk pasar Asia.
Ketergantungan ini mencakup kebutuhan dasar rumah tangga untuk pemanas dan listrik, hingga penggerak mesin manufaktur raksasa di kawasan tersebut.
Asia Tenggara menjadi wilayah yang paling terpapar risiko akibat blokade di Teluk Persia. Ironisnya, negara produsen minyak seperti Indonesia dan Malaysia pun tidak luput dari ancaman.
Dalam satu dekade terakhir, kedua negara tersebut mengalami penurunan produksi domestik yang dibarengi dengan peningkatan volume impor.
"Minyak mentah Timur Tengah umumnya bertipe heavy sour atau medium sour," ujar Jane Nakano, peneliti senior di Center for Strategic and International Studies (CSIS) kepada BBC News.
Menurut Nakano, kilang-kilang minyak di Asia Tenggara telah dirancang khusus untuk memproses jenis minyak tersebut.
Hal ini membuat diversifikasi pasokan menjadi sulit. "Membutuhkan investasi besar untuk mengubah spesifikasi kilang jika ingin beralih ke pemasok lain seperti Amerika Serikat," tambahnya.
Langkah Darurat Pemerintah
Tekanan ekonomi ini memaksa sejumlah kepala negara mengambil kebijakan ekstrem. Di Filipina, yang mengandalkan 95% kebutuhan minyak mentah dari Timur Tengah, pemerintah telah menginstruksikan pegawai publik untuk bekerja empat hari seminggu guna menghemat bahan bakar.
Langkah serupa terjadi di Thailand, di mana Menteri Energi menetapkan suhu pendingin ruangan di kantor pemerintahan minimal 26°C.
Sementara itu, lonjakan biaya transportasi juga mengancam ketahanan pangan. Singapura, yang mengimpor 90% bahan pangannya, serta Indonesia, yang sangat bergantung pada impor gandum, kini menghadapi risiko inflasi harga pangan yang nyata.
Kontradiksi Kekuatan Besar
Di tengah badai krisis, Tiongkok relatif lebih tangguh berkat cadangan minyak nasional yang masif. Selain itu, Beijing dilaporkan tetap menerima jutaan barel minyak dari Iran melalui jalur non-resmi, meskipun di bawah sanksi AS.
Data dari Kpler menunjukkan sekitar 46 juta barel minyak mentah Iran saat ini berada dalam penyimpanan terapung di Laut Cina Selatan.
Berbeda dengan tetangganya, Amerika Serikat justru menjadi negara yang paling terlindungi dari guncangan ini. Berkat peningkatan produksi melalui metode fracking dalam beberapa tahun terakhir, AS kini memiliki kemandirian energi yang lebih kuat.
"Namun, ada batasan pada kemampuan AS untuk mengekspor gas karena infrastruktur yang ada memerlukan waktu dan biaya besar untuk ditingkatkan," ungkap David Oxley, Kepala Ekonom Iklim dan Komoditas di Capital Economics.
Editor: Redaktur TVRINews
