
Panglima Angkatan Darat Iran, Mayjen Amir Hatami, berbicara di hadapan para taruna akademi militer di Teheran, Iran. (Foto: AP News/ Masoud Nazari Mehrabi/Iranian Army)
Penulis: Fityan
TVRINews-Teheran
Teheran dan Washington gelar negosiasi nuklir di tengah meningkatnya pengerahan kekuatan armada tempur AS.
Panglima militer Iran mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat dan Israel pada Selasa 10 Februari 2026, menyatakan bahwa setiap serangan militer terhadap Republik Islam tersebut akan memicu respons yang "belum pernah dialami sebelumnya."
Ketegangan ini memuncak saat Presiden AS Donald Trump menempatkan armada militer besar di Timur Tengah sebagai bentuk tekanan selama proses negosiasi nuklir berlangsung.
Langkah ini dipandang sebagai upaya Washington untuk memaksa Teheran menyepakati pembatasan ketat atas program nuklir dan aktivitas rudal balistiknya.
Diplomasi di Bawah Bayang-bayang Militer
Dalam pernyataan video yang dirilis oleh media resmi militer Iran, Mayor Jenderal Amir Hatami menegaskan bahwa pertahanan dan diplomasi adalah dua elemen yang saling melengkapi.
Berbicara mendampingi Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, Hatami menyatakan kesiapan penuh pasukannya.
"Kami tahu bahwa musuh ini tidak memahami apa pun kecuali bahasa kekuatan," ujar Hatami. "Jika mereka melakukan kesalahan, mereka pasti akan menerima tanggapan yang belum pernah mereka lihat maupun alami hingga saat ini."
Hatami juga merujuk pada konflik tahun 2006 antara Israel dan Hezbollah sebagai bukti ketahanan poros yang didukung Iran, sembari mengklaim bahwa tingkat kesiapan defensif Iran saat ini jauh lebih tinggi.
Negosiasi di Muscat
Di sisi lain, jalur diplomasi tetap terbuka melalui pembicaraan tidak langsung di Muscat, Oman. Delegasi Iran yang dipimpin Araghchi bertemu dengan utusan khusus AS, Steve Witkoff, dan Jared Kushner.
Menariknya, untuk pertama kalinya, AS menyertakan Laksamana Brad Cooper, Kepala Komando Pusat AS (CENTCOM), dalam meja perundingan.
Araghchi menggambarkan pembicaraan tersebut sebagai "awal yang sangat baik" namun tetap menekankan adanya "tembok ketidakpercayaan yang besar" antara kedua negara.
"Jika proses ini berlanjut, saya pikir kita akan mencapai kerangka pemahaman yang baik," kata Araghchi kepada kantor berita IRNA, seraya menambahkan bahwa diskusi sejauh ini hanya berfokus pada isu nuklir.
Tekanan dari Gedung Putih dan Yerusalem
Presiden Trump, berbicara dari pesawat Air Force One, mengisyaratkan bahwa Iran sangat membutuhkan kesepakatan akibat tekanan ekonomi yang melumpuhkan. Namun, ia menegaskan tidak akan terburu-buru.
"Iran tampaknya sangat ingin membuat kesepakatan—sebagaimana seharusnya mereka lakukan," kata Trump. Ia memperingatkan bahwa konsekuensi akan "sangat curam" jika kesepakatan gagal tercapai.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan tiba di Washington pekan ini.
Netanyahu diperkirakan akan mendesak Trump untuk memperluas tuntutan, termasuk penghentian total pengayaan uranium dan pemutusan pendanaan bagi kelompok proksi Iran di kawasan.
Kondisi ekonomi Iran saat ini dilaporkan terus memburuk dengan inflasi yang melonjak dan kelangkaan barang akibat sanksi Barat, menambah urgensi bagi Teheran untuk mencari keringanan sanksi melalui meja perundingan.
Editor: Redaktur TVRINews
