
Zohran Mamdani (tengah) bersama tim transisinya, di Queens, New York, Rabu 5/11 (Foto: AP News / Heather Khalifa)
Penulis: Fityan
TVRInews – New York, Amerika Serikat
Kemenangan Zohran Mamdani di New York: Bawa Angin Perubahan di Tanah Kelahiran Uganda
Kemenangan telak Zohran Mamdani dalam pemilihan Wali Kota New York City memicu gelombang optimisme dan harapan akan perubahan politik di Uganda, negara kelahirannya.
Kenaikan politikus sayap kiri berusia 34 tahun ini menjadi inspirasi bagi para politisi muda dan warga Uganda, yang telah lama berada di bawah kekuasaan Presiden Yoweri Museveni yang otoriter selama hampir empat dekade.
Kabar kemenangan Mamdani seorang Muslim muda dengan akar Afrika dan Asia Selatan dirayakan secara luas di ibu kota Uganda, Kampala, kota tempat ia dilahirkan pada tahun 1991.
Bagi banyak warga Uganda, kisah sukses Mamdani di negara demokrasi terkuat dunia membawa pesan penyemangat di tengah kondisi politik represif di negara mereka.
"Ini adalah dorongan besar bahkan bagi kami di Uganda bahwa hal itu mungkin terjadi," kata Joel Ssenyonyi, seorang pemimpin oposisi berusia 38 tahun di Parlemen Uganda, kepada The Associated Press.
Ssenyonyi menambahkan bahwa meskipun warga Uganda menghadapi "jalan panjang untuk mencapai ke sana," kesuksesan Mamdani "menginspirasi kami."
Perjuangan Melawan Kekuasaan Otoriter
Kemenangan Mamdani hadir di saat Presiden Museveni, 81 tahun, sedang berupaya memperpanjang kekuasaan nyaris 40 tahunnya dengan mencari masa jabatan ketujuh dalam pemilu Januari mendatang.
Penolakannya untuk pensiun telah menimbulkan kekhawatiran akan transisi politik yang bergejolak.
Di tengah upaya penumpasan terhadap lawan-lawan politik, kemenangan Mamdani menjadi simbol harapan. Robert Kyagulanyi, yang dikenal sebagai Bobi Wine, pemimpin oposisi dari partai National Unity Platform (NUP), menyampaikan ucapan selamatnya melalui X (sebelumnya Twitter).
"Dari Uganda, kami merayakan dan mengambil kekuatan dari contoh Anda saat kami berupaya membangun negara di mana setiap warga negara dapat mewujudkan impian terbesar mereka terlepas dari sarana dan latar belakang," tulis Wine.
Mamdani, yang mendeskripsikan dirinya sebagai sosialis demokratis, berjanji akan mengatasi ketidaksetaraan dan melawan retorika xenofobia di AS. Di Uganda, lawan-lawan politiknya menghadapi tantangan yang jauh lebih berat, termasuk penangkapan dan tuduhan makar.
Mamdani meninggalkan Uganda pada usia lima tahun, mengikuti ayahnya, pakar teori politik Mahmood Mamdani, ke Afrika Selatan dan kemudian pindah ke AS.
Meskipun telah menjadi warga negara AS yang dinaturalisasi pada tahun 2018, ia tetap mempertahankan kewarganegaraan Ugandanya dan keluarganya masih memiliki rumah di Kampala yang rutin mereka kunjungi.
Transisi dan Kontroversi di New York
Setelah kemenangan bersejarahnya yang mengalahkan mantan Gubernur Demokrat Andrew Cuomo dan kandidat Republik Curtis Sliwa, Wali Kota terpilih Mamdani berjanji akan membentuk pemerintahan yang "cakap dan welas asih."
Dalam pidatonya, Mamdani menyatakan: "Kami akan membentuk pemerintahan yang sama-sama cakap dan welas asih, didorong oleh integritas dan bersedia bekerja keras seperti jutaan warga New York yang menyebut kota ini rumah."
Namun, di tengah fokusnya pada isu keterjangkauan dan program sosial, seperti menghapus tarif bus umum dan membekukan sewa rumah bersubsidi, advokasinya terhadap hak-hak Palestina telah memicu kontroversi.
The Anti-Defamation League (ADL), sebuah kelompok pro-Israel, mengumumkan inisiatif untuk "melacak dan memantau" kebijakan dan penunjukan personel di bawah pemerintahan Mamdani yang baru.
Editor: Redaksi TVRINews
