
Foto: BBC News
Penulis: Fityan
TVRINews – Teheran, Iran
Operasi udara besar Israel menewaskan tokoh elite militer dan akademisi Iran dalam satu malam, memicu gejolak regional dan risiko perang terbuka.
Saat jet-jet tempur Israel melancarkan serangan mendadak ke berbagai lokasi penting di Teheran, Isfahan, dan Qom. Dalam operasi militer yang disebut "Rising Lion", Israel menyasar titik-titik strategis yang tak hanya mencakup fasilitas nuklir dan markas militer, tetapi juga kediaman pribadi para tokoh terpenting dalam struktur pertahanan Iran.
Beberapa nama besar tewas dalam serangan ini, di antaranya Jenderal Mohammad Bagheri, tokoh tertinggi dalam struktur komando militer Iran. Bagheri dikenal sebagai kepala staf gabungan Angkatan Bersenjata Iran yang mengawasi IRGC dan tentara reguler. Ia adalah arsitek strategi pertahanan nasional yang tak tergantikan.
Tak kalah penting, Hossein Salami, komandan tertinggi IRGC yang dikenal dengan retorika keras terhadap Israel, juga dilaporkan meninggal dalam serangan yang menghantam fasilitas bawah tanah tempat ia dan jajaran petinggi militer berkumpul.
Israel juga menargetkan tokoh penting program misil Iran, Amir Ali Hajizadeh, yang sebelumnya memimpin serangan rudal balasan ke wilayah Israel. Hajizadeh tewas bersama beberapa petinggi dirgantara IRGC di sebuah bunker rahasia yang dibombardir secara presisi.
Di luar militer, Setidaknya enam ilmuwan nuklir ternama, termasuk Fereydoon Abbasi, mantan kepala Badan Energi Atom Iran sekaligus anggota parlemen, menjadi korban. Mereka dikenal sebagai pendukung aktif pengembangan teknologi nuklir Iran untuk tujuan pertahanan.
Menurut media Iran lebih dari 40 korban jiwa telah diidentifikasi, termasuk warga sipil dan anak-anak yang berada di sekitar lokasi serangan.
Sementara itu Jenderal Abdolrahim Mousavi, seorang perwira senior dari tentara konvensional, menggantikan posisi Bagheri. Sementara Mohammad Pakpour diangkat sebagai komandan baru IRGC.
Israel belum merilis pernyataan resmi detail, namun sumber militer menyebutkan bahwa serangan ini adalah respons terhadap eskalasi ancaman dari Iran, termasuk rencana serangan balasan yang sedang disiapkan oleh IRGC.
“Kami mengirim pesan jelas: tak ada tempat yang aman bagi mereka yang merancang kehancuran terhadap Israel,” ujar seorang pejabat militer Israel yang enggan disebutkan namanya, seperti dikutip oleh saluran berita regional.
Ketegangan antara dua musuh bebuyutan ini pun memasuki fase paling berbahaya dalam dua dekade terakhir. Komunitas internasional menyerukan deeskalasi, namun banyak pihak meyakini perang terbuka kini hanya tinggal menunggu waktu.
Editor: Redaktur TVRINews
