
Foto: BBC Sport
Penulis: Fityan
TVRINews – Washington, AS
Setelah mundur dari pemerintahan Trump, Elon Musk meledak dengan kritik tajam terhadap RUU pajak dan belanja senilai triliunan dolar, menyebutnya penuh “proyek babi” dan bom waktu bagi defisit anggaran.
Elon Musk, miliarder teknologi dan mantan penasihat pemerintahan Donald Trump, melontarkan kritik pedas terhadap rancangan undang-undang pajak dan belanja andalan Trump yang baru saja disahkan DPR AS. Dalam serangkaian unggahan di platform X pada Selasa (3/6), Musk menyebut RUU tersebut sebagai “abominasi yang menjijikkan” dan memperingatkan bahwa undang-undang ini akan mendorong Amerika Serikat ke jurang utang tak terkendali.
"Memalukan bagi siapa pun yang mendukungnya," tulis Musk. Ia menyebut RUU itu sebagai "penuh daging babi politik" istilah di dunia politik AS untuk proyek-proyek boros yang menguntungkan konstituen lokal anggota kongres.
RUU yang dijuluki Trump sebagai “big beautiful bill” ini memang kontroversial. Selain memperpanjang pemotongan pajak era 2017, RUU ini juga menaikkan pagu utang negara hingga $4 triliun dan menggelontorkan dana besar untuk militer serta program deportasi massal imigran ilegal. Estimasi awal menyebut defisit anggaran akan melonjak hingga $600 miliar dalam tahun fiskal mendatang.
Musk yang sebelumnya dikenal sebagai sekutu Trump — bahkan menyumbang lebih dari $250 juta untuk kampanye kini menunjukkan tanda-tanda perpecahan. Ia mundur dari tim efisiensi anggaran Doge pada 31 Mei lalu setelah 129 hari bergabung dengan pemerintahan.
“RUU ini akan meningkatkan defisit hingga $2,5 triliun dan mewariskan beban utang yang menghancurkan bagi rakyat Amerika,” tulis Musk dalam unggahannya.
Sementara itu, Gedung Putih menanggapi santai komentar tersebut. "Presiden sudah tahu di mana posisi Elon sejak awal," ujar Juru Bicara Karoline Leavitt. "Ini adalah RUU yang indah, dan Presiden tetap teguh mendukungnya."
Namun gelombang penolakan tak hanya datang dari Musk. Senator Rand Paul dari Partai Republik menolak keras pengangkatan batas utang dalam RUU ini dan menyebut, “GOP akan memiliki utang ini seutuhnya begitu mereka menyetujui RUU ini.”
Trump sendiri menyerang balik Paul dengan menyebut idenya "gila" dan menuding Senator Kentucky itu tak paham isi RUU. Di sisi lain, Ketua DPR dari Partai Republik, Mike Johnson, justru membela isi RUU dan menyayangkan komentar Musk. "Saya menyesal Elon salah menilai," ujarnya. Padahal, sehari sebelumnya Johnson mengaku sempat berbincang 20 menit dengan Musk via telepon.
Salah satu penyebab ketegangan disebut-sebut adalah kegagalan Musk dalam melobi agar pengawasan lalu lintas udara di bawah FAA dipindahkan ke sistem satelit Starlink miliknya. Hal ini dianggap berpotensi konflik kepentingan dan ditolak oleh pemerintah.
Ironisnya, kritik tajam Musk justru disambut oleh beberapa politisi Demokrat. "Bahkan Elon Musk saja bilang ini RUU buruk, padahal dia orang dalam dan sahabat Trump," sindir Pemimpin Minoritas Senat, Chuck Schumer.
Trump dan kubu Republik menargetkan RUU ini diteken menjadi undang-undang sebelum 4 Juli, bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Amerika.
Namun, dengan pecahnya kubu internal dan perlawanan publik dari tokoh sebesar Musk, RUU ini kini tak hanya menjadi pertarungan anggaran tapi juga drama politik yang bisa memecah barisan pendukung Trump sendiri.
Editor: Redaktur TVRINews
