
Warga melintas di jalanan tanpa aliran listrik saat pemadaman nasional di Havana, 21 Maret 2026 [Foto: AFP/Yamil Lage]
Penulis: Fityan
TVRINews – Havana
Pemadaman total kedua dalam sepekan memperburuk krisis kemanusiaan di tengah tekanan blokade minyak Amerika Serikat.
Kuba kembali terjerembap ke dalam kegelapan total setelah jaringan listrik nasional mengalami kegagalan sistemik untuk kedua kalinya dalam sepekan terakhir.
Insiden yang terjadi pada Sabtu 21 maret 2026 waktu setempat ini menandai keruntuhan energi ketiga sepanjang Maret, memperparah kelumpuhan aktivitas di pulau berpenduduk 9,6 juta jiwa tersebut.
Uni Listrik Kuba (UNE), di bawah naungan Kementerian Energi dan Pertambangan, mengonfirmasi bahwa pemadaman masif ini dipicu oleh kegagalan mendadak pada unit pembangkit di pembangkit listrik termal Nuevitas, Provinsi Camaguey.
Kegagalan teknis tersebut memicu efek kaskade yang menjatuhkan seluruh mesin pembangkit yang sedang beroperasi secara simultan.
"Sejak saat itu, terjadi efek beruntun pada mesin-mesin yang sedang daring," tulis laporan resmi Kementerian Energi Kuba. Sebagai langkah darurat, otoritas mengaktifkan "mikro-pulau" generasi listrik untuk menyuplai pusat-pusat vital seperti rumah sakit dan sistem pengairan.
Kehidupan dalam Kegelapan
Di Havana, pemandangan kota berubah menjadi sunyi dan gelap gulita. Warga terpaksa menavigasi jalanan hanya dengan bantuan lampu ponsel atau senter.
Meski beberapa restoran di kawasan wisata tetap beroperasi menggunakan generator mandiri, mayoritas masyarakat harus menghadapi kenyataan pahit pemadaman hingga 15 jam sehari.
Keputusasaan mulai menyelimuti warga sipil. Nilo Lopez, seorang pengemudi taksi berusia 36 tahun, mengungkapkan keresahannya kepada kantor berita AFP:
"Saya bertanya-tanya apakah kita akan terus seperti ini sepanjang hidup. Anda tidak bisa hidup dalam kondisi seperti ini."
Krisis ini semakin meruncing karena tidak ada minyak yang masuk ke pulau itu sejak 9 Januari lalu.
Kelangkaan bahan bakar tidak hanya melumpuhkan sektor kelistrikan, tetapi juga memaksa maskapai penerbangan membatalkan jadwal penerbangan, sebuah pukulan telak bagi sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi Kuba.
Geopolitik dan Tekanan Washington
Situasi energi di Kuba memburuk secara signifikan sejak sekutu utama sekaligus pemasok minyak mereka, pemimpin sosialis Venezuela Nicolas Maduro, ditangkap dalam operasi militer Amerika Serikat pada Januari lalu.
Pemerintah Kuba menuding Washington sengaja mencekik ekonomi mereka melalui blokade energi. Presiden AS Donald Trump baru-baru ini memperingatkan akan menjatuhkan tarif bagi negara mana pun yang menjual atau menyediakan minyak ke Kuba.
Dalam pernyataannya kepada pers, Trump mengklaim bahwa pemerintahan Kuba sedang berada di ambang keruntuhan.
"Apakah saya akan membebaskannya, mengambilnya, saya pikir saya bisa melakukan apa pun yang saya mau dengannya. Sejujurnya, mereka adalah bangsa yang sangat lemah saat ini," ujar Trump.
Menanggapi retorika tersebut, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menegaskan posisi negaranya melalui pernyataan resmi. Beliau memperingatkan bahwa "setiap agresor eksternal akan menghadapi perlawanan yang tidak terpatahkan."
Di tengah ketegangan geopolitik ini, bantuan internasional mulai tiba di Havana pekan ini, membawa pasokan medis, makanan, air, dan panel surya untuk meringankan beban kemanusiaan yang kian berat.
Editor: Redaktur TVRINews
