
Foto: X.com/AFP
Penulis: Fityan
TVRINews – Madrid
Presiden Brasil desak pemimpin dunia jaga perdamaian dan reformasi total PBB.
Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan luar negeri Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam sebuah wawancara mendalam bersama harian Spanyol El País, Lula menegaskan bahwa pemimpin Amerika Serikat tersebut tidak memiliki hak untuk memberikan ancaman sepihak terhadap kedaulatan negara lain.
Pernyataan ini muncul sebagai respons atas peringatan Trump baru-baru ini, yang menyatakan bahwa "seluruh peradaban akan mati" di Iran jika Teheran memutuskan untuk menutup Selat Hormuz.
"Trump tidak berhak bangun di pagi hari dan langsung mengancam sebuah negara," ujar Lula kepada El País.
Lula mengingatkan bahwa berdasarkan Konstitusi AS sendiri, otoritas terkait kebijakan perang dan luar negeri dibagi antara Kongres dan Presiden, bukan keputusan mutlak individu. Ia menekankan pentingnya tanggung jawab moral bagi para pemimpin negara besar.
"Sangat penting bagi para pemimpin berpengaruh untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar dalam menjaga perdamaian dunia," tambah presiden beraliran kiri yang kini berusia 80 tahun tersebut.
Visi yang Bertolak Belakang
Hubungan antara Brasília dan Washington saat ini berada dalam fase yang kompleks. Meski pertemuan kedua pemimpin tahun lalu sempat meredakan ketegangan dan menghasilkan pengurangan tarif dagang, Lula dan Trump tetap berdiri di kutub yang berlawanan dalam berbagai isu fundamental.
Perbedaan tajam terlihat pada pandangan mereka mengenai multilateralisme, perdagangan internasional, hingga strategi penanganan perubahan iklim.
Reformasi Dewan Keamanan PBB
Selain mengkritik retorika Trump, Lula kembali menyuarakan urgensi reformasi besar-besaran pada Dewan Keamanan PBB.
Ia mendesak penghapusan hak veto yang dimiliki oleh lima anggota tetap dan mendorong inklusivitas bagi negara-negara dari Afrika serta Amerika Latin.
Lula memberikan peringatan filosofis bahwa kegagalan PBB dalam bertransformasi akan membenarkan skeptisisme yang selama ini disuarakan oleh Trump mengenai efektivitas sistem internasional pasca-Perang Dunia II.
"Sudah waktunya untuk mendefinisikan ulang Perserikatan Bangsa-Bangsa demi memberikan kredibilitas. Jika tidak, maka Trump benar [bahwa sistem ini tidak efektif]," tegasnya.
Agenda Diplomatik di Spanyol
Wawancara ini dilakukan menjelang kunjungan resmi Lula ke Spanyol untuk bertemu dengan Perdana Menteri Pedro Sánchez. Di Barcelona, Lula dijadwalkan menghadiri forum pemimpin progresif dunia pada hari Sabtu 18 April 2026.
Pertemuan tingkat tinggi tersebut juga akan dihadiri oleh sejumlah tokoh global, termasuk Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum dan Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, guna membahas penguatan kerja sama lintas benua.
Editor: Redaksi TVRINews
