Penulis: Fityan
TVRINews, Ukraina
Serangan udara masif tewaskan warga sipil saat momen gencatan senjata ditolak Moskow.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, melayangkan kritik tajam terhadap Moskow yang dinilai sengaja memilih "eskalasi Paskah" dibandingkan menyepakati gencatan senjata.
Pernyataan ini muncul menyusul gelombang serangan drone dan rudal skala besar Rusia yang menyasar berbagai wilayah Ukraina, mengabaikan momentum hari besar keagamaan mendatang.
Dalam rangkaian serangan tersebut, sedikitnya enam warga sipil dilaporkan tewas dan 40 lainnya luka-luka Jumat 3 April 2026.
Pola serangan Rusia kini mulai bergeser; serangan besar di siang hari yang sebelumnya jarang terjadi, kini semakin intensif dilakukan di seluruh penjuru negeri.
Eskalasi ini terjadi di tengah mandeknya upaya diplomasi yang dipimpin Amerika Serikat. Fokus Washington dilaporkan mulai terbelah sejak tim Presiden Donald Trump mengalihkan perhatian utama mereka pada konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah Kutip BBC News.
Meski demikian, Zelensky mengonfirmasi penilaian intelijen Inggris bahwa situasi di garis depan timur saat ini adalah yang "paling menguntungkan" bagi Ukraina dalam 10 bulan terakhir, seiring dengan melambatnya gerak maju pasukan darat Rusia.
Namun, keberhasilan di darat tersebut kontras dengan intensitas serangan udara yang tak kunjung reda.
Di wilayah Zhytomyr, tim penyelamat harus berpacu dengan waktu menyisir puing-puing pemukiman yang hancur total. Sementara di Kyiv, rekaman video menunjukkan sebuah drone menghantam blok apartemen hingga memicu kebakaran hebat.
*Respons Terhadap Tawaran Gencatan Senjata*
Wali Kota Kharkiv menyebut serangan di wilayahnya sebagai salah satu yang terbesar sejauh ini, yang mengakibatkan korban jiwa dan luka kritis.
Bagi Zelensky, rentetan serangan ini adalah jawaban nyata Rusia terhadap proposal gencatan senjata sementara untuk menyambut Paskah Ortodoks.
"Rusia justru mengintensifkan serangan mereka, mengubah apa yang seharusnya menjadi keheningan di langit menjadi eskalasi Paskah," tulis Zelensky melalui akun resminya di platform X.
Di sisi lain, Ukraina terus melakukan serangan balasan ke fasilitas energi di pesisir utara Rusia, termasuk pelabuhan Ust-Luga, yang memaksa Rusia menghentikan operasional ekspornya.
Zelensky menegaskan bahwa tawaran gencatan senjata masih terbuka jika Moskow setuju, pesan yang telah disampaikan kepada utusan Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Tantangan Logistik dan Geopolitik
Ketidakpastian menyelimuti proses perdamaian setelah rencana pembicaraan tatap muka yang dimediasi AS ditunda dua kali. Moskow menyatakan proses tersebut saat ini dalam status "ditunda."
Ada kekhawatiran mendalam di pihak Kyiv terkait pergeseran konteks global yang dianggap lebih menguntungkan Rusia.
Lonjakan harga bahan bakar akibat konflik di Iran menjadi beban berat bagi operasional tank dan kendaraan tempur Ukraina. Sebaliknya, bagi Rusia, kenaikan harga energi justru memperkuat pundi-pundi anggaran perang mereka.
Masalah ketersediaan alutsista juga menjadi sorotan. Pasokan rudal pertahanan udara Patriot dari AS kini menipis karena dialihkan untuk kebutuhan konflik di Timur Tengah.
"Semakin lama perang di Timur Tengah berlanjut, semakin besar risiko kami menerima lebih sedikit persenjataan. Ini adalah tugas yang sangat sulit mungkin salah satu yang paling menantang," ujar Zelensky kepada wartawan di Kyiv.
Meskipun situasi di garis depan dianggap "stabil" tanpa adanya ancaman terobosan besar dari Rusia, fokus Ukraina saat ini tampak bergeser pada strategi bertahan dan menjaga garis pertahanan, alih-alih melakukan serangan balik besar-besaran.
Editor: Redaktur TVRINews
