
Warga Teheran memegang poster Ayatollah Mojtaba Khamenei dan mendiang ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, dalam sebuah rapat umum untuk mendukung pemimpin tertinggi Iran [Foto: Ap News/Vahid Salemi]
Penulis: Fityan
TVRINews – Washington DC
Presiden AS memperingatkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran yang baru mungkin tidak akan bertahan lama di tengah eskalasi konflik.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan ketidakpuasannya atas terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru.
Penunjukan ini dipandang sebagai bentuk perlawanan terbuka Teheran terhadap tekanan Washington.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Senin, Trump menyebut keputusan Majelis Ahli Iran tersebut sebagai sebuah "kesalahan besar." Penunjukan ini terjadi hanya dua hari setelah Trump secara terbuka memperingatkan agar tidak memilih putra dari mendiang Ali Khamenei tersebut.
"Saya tidak melalui semua ini hanya untuk berakhir dengan Khamenei yang lain. Saya ingin terlibat dalam proses pemilihan tersebut," ujar Trump kepada majalah Time, yang dikutip Selasa 10 Maret 2026.
Eskalasi Konflik dan Ancaman Keamanan
Penunjukan Mojtaba, yang berusia 56 tahun, dilakukan di tengah situasi regional yang sangat tidak stabil. Menyusul serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari yang menewaskan Ali Khamenei, Iran merespons dengan meluncurkan ratusan rudal dan drone yang menargetkan aset militer di Timur Tengah serta menutup Selat Hormuz.
Trump bahkan memberikan sinyalemen keras mengenai masa depan pemimpin baru tersebut. "Saya tidak tahu apakah dia akan bertahan lama. Saya pikir mereka membuat kesalahan," kata Trump, seraya mengisyaratkan kemungkinan sang pemimpin menjadi target operasi militer berikutnya.
Senada dengan Presiden, Senator Republik Lindsey Graham menyebut Mojtaba bukanlah sosok perubahan yang diharapkan Barat.
"Hanya masalah waktu sebelum ia mengalami nasib yang sama dengan ayahnya," tulis Graham melalui platform X.
Sentimen Nasionalisme di Teheran
Meskipun AS mengklaim kemenangan militer sudah di depan mata, kenyataan di lapangan menunjukkan kompleksitas yang berbeda.
Ryan Costello, Direktur Kebijakan di National Iranian American Council (NIAC), menilai kecaman Trump justru memperkuat posisi Mojtaba di internal Iran.
"Pilihannya bukan lagi tentang siapa kandidat terbaik, melainkan tentang apa yang harus dilakukan untuk melindungi kedaulatan Iran dari agresi luar," jelas Costello kepada Al Jazeera.
Di Teheran, intervensi verbal Trump menuai kecaman balik. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa nasib negaranya akan ditentukan oleh rakyat Iran sendiri, bukan oleh pihak asing.
Dampak Ekonomi Global
Perang yang kini meluas melibatkan Hizbullah di Lebanon ini telah memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Penutupan Selat Hormuz menjadi pukulan telak bagi pasar energi internasional.
Meski demikian, Trump tetap menuntut "penyerahan tanpa syarat" dari Iran. Dalam wawancaranya dengan CBS News, ia mengklaim bahwa kekuatan militer Iran sudah lumpuh dan perang berjalan jauh lebih cepat dari jadwal yang ditentukan.
Di sisi lain, kritik domestik mulai bermunculan di Washington. Anggota Kongres dari Partai Demokrat, Jake Auchincloss, mempertanyakan visi jangka panjang pemerintah.
"Presiden mengganti diktator teroris berusia 86 tahun dengan diktator teroris berusia 56 tahun. Apa rencana sebenarnya?" tulisnya, merujuk pada kekhawatiran bahwa Mojtaba justru akan mempercepat program nuklir Iran.
Editor: Redaktur TVRINews
