Penulis: Fityan
TVRINews, Ankara
Saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat, gema azan Magrib mengalun merdu di langit Türkiye. Jalanan yang semula sepi berubah ramai, dipenuhi oleh warga yang bersiap untuk berbuka puasa.
Di antara keramaian itu, tabuhan drum sahur masih terdengar di beberapa sudut kota, menandakan datangnya bulan Ramadan yang penuh berkah.
Bulan Ramadan di Türkiye bukan sekadar ibadah puasa, tetapi juga perpaduan tradisi yang telah mengakar selama berabad-abad.
Sejak sebelum bulan suci dimulai, masyarakat melakukan "pembersihan Ramadan" sebagai simbol awal yang bersih dan suci. Pasar-pasar pun dipenuhi pembeli yang berburu bahan makanan khas seperti kurma, lentil, dan roti khas Ramadan, Ramadan pidesi, yang menjadi hidangan wajib saat berbuka.
Tradisi sahur di Türkiye masih mempertahankan nuansa klasiknya. Meski banyak yang mengandalkan alarm atau ponsel, para penabuh drum sahur tetap berjalan menyusuri jalan-jalan, membangunkan warga dengan irama tabuhan dan syair-syair kuno.
Sebagai tanda terima kasih, mereka biasanya diberi imbalan kecil menjelang akhir Ramadan.
Saat malam tiba, menara-menara masjid di Türkiye bersinar dengan cahaya mahya, tulisan bercahaya yang menggantung di antara dua menara, menyampaikan pesan spiritual seperti "Selamat Datang Ramadan" atau "Damai Sejahtera Untukmu." Tradisi ini telah ada sejak abad ke-17, awalnya menggunakan lampu minyak, tetapi kini digantikan oleh lampu listrik modern.
Kehangatan Berbuka Puasa dan Kedermawanan di Bulan Ramadan :
Suasana berbuka puasa atau iftar di Türkiye adalah momen kebersamaan yang erat. Hidangan khas seperti sup lentil, dolma (daun anggur isi), dan ragam masakan daging selalu hadir di meja iftar.
Tradisi dis kirasi dari zaman Kesultanan Ottoman, di mana keluarga kaya mengundang masyarakat kurang mampu untuk berbuka puasa dan memberikan hadiah kecil, masih terus dilestarikan dalam bentuk buka puasa gratis di berbagai lokasi.
Di beberapa kota, pemerintah dan organisasi amal mendirikan tenda iftar, tempat siapa saja bisa berbuka bersama tanpa melihat latar belakang sosial mereka.
Tak hanya itu, ada pula tradisi zimem defteri, yaitu membayar utang orang lain secara anonim, melanjutkan kebiasaan sosial yang sudah ada sejak masa Ottoman.
Meriahnya Ramadan: Dari Meriam Iftar hingga Hiburan Klasik :
Di berbagai kota di Türkiye, dentuman meriam iftar masih terdengar sebagai tanda waktu berbuka. Tradisi yang berasal dari era Ottoman ini kini lebih bersifat simbolis, namun tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadan.
Saat malam semakin larut, masyarakat berbondong-bondong menuju masjid untuk melaksanakan salat Tarawih berjamaah. Anak-anak pun mulai diperkenalkan pada puasa melalui tekne orucu, yaitu puasa setengah hari hingga waktu siang, yang biasanya diakhiri dengan hadiah kecil atau makanan manis sebagai apresiasi atas usaha mereka.
Hiburan Ramadan juga tak kalah menarik. Dahulu, warung kopi dan alun-alun menjadi tempat berkumpulnya pendongeng, penyair, dan musisi. Teater bayangan tradisional Karagoz dan Hacivat menjadi tontonan yang dinantikan setiap malam. Kini, festival budaya, pameran, dan pertunjukan seni tetap hadir untuk menjaga semangat perayaan Ramadan tetap hidup.
Kuliner Ramadan: Manisnya Gullac dan Segarnya Sherbet :
Ramadan di Türkiye belum lengkap tanpa mencicipi gullac, makanan penutup khas yang terbuat dari lapisan tipis tepung pati, susu, biji delima, dan kacang-kacangan. Hidangan ini berasal dari dapur istana Ottoman dan tetap populer hingga kini.
Selain itu, ada Ramadan sherbet, minuman berbahan dasar buah dan rempah-rempah yang dipercaya membantu pencernaan setelah seharian berpuasa.
Keagungan Relik Suci di Istana Topkapi :
Di tengah semarak Ramadan, Chamber of the Holy Relics di Istana Topkapi menjadi salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi.
Relik suci peninggalan Nabi Muhammad SAW dan para nabi terdahulu, seperti pedang, jubah, dan tongkat Nabi Musa, dipajang dengan perawatan khusus. Pembersihan dan pemeliharaan dilakukan secara teliti agar relik ini tetap terjaga.
Tahun ini, jumlah relik yang dipamerkan meningkat dari 60 menjadi 300, memberikan pengalaman spiritual yang lebih mendalam bagi para pengunjung.
Tradisi mengumpulkan debu dari relik suci pun tetap dilestarikan, sebagai simbol penghormatan terhadap peninggalan sejarah Islam.
Ramadan di Türkiye, Perpaduan Tradisi dan Modernitas
Meskipun zaman terus berubah, esensi Ramadan di Türkiye tetap sama: bulan yang memperkuat nilai-nilai ibadah, kebersamaan, dan kepedulian sosial.
Dari tabuhan drum sahur hingga semarak mahya di langit malam, Ramadan di Türkiye adalah perayaan spiritual yang menyatukan masa lalu dan masa kini dalam harmoni yang indah.
Editor: Redaktur TVRINews
