
_Seorang warga mengevakuasi diri dari area terdampak menyusul naiknya air banjir di distrik Buner, provinsi Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan, Senin 18/8 (Foto : AFP News)_
Penulis: Fityan
TVRINews- Peshawar Pakistan
Korban Tewas Capai 277 Jiwa, Otoritas Diminta Tanggung Jawab atas Minimnya Peringatan Dini.
Lebih dari 150 orang masih dinyatakan hilang setelah banjir bandang dahsyat melanda wilayah barat laut Pakistan. Peristiwa yang terjadi akhir pekan lalu ini telah menewaskan sedikitnya 277 orang. Di tengah upaya pencarian korban, pemerintah setempat justru mendapat kecaman setelah seorang pejabat mengatakan bahwa warga seharusnya tidak membangun rumah di sepanjang aliran sungai.
Bencana yang dipicu oleh hujan deras tak terduga ini melanda distrik Buner di provinsi Khyber Pakhtunkhwa. Perubahan iklim telah menjadikan kawasan pegunungan di Pakistan utara, yang dialiri sungai-sungai, semakin rentan terhadap hujan lebat yang tiba-tiba.
Warga setempat mengeluhkan tidak adanya peringatan yang disiarkan melalui pengeras suara masjid, metode tradisional yang sering digunakan untuk mengumumkan keadaan darurat di daerah terpencil. Namun, pemerintah berdalih bahwa intensitas hujan yang begitu tinggi menyebabkan banjir datang terlalu cepat sebelum warga sempat diberi tahu.
Juru bicara layanan darurat, Mohammad Suhail, melaporkan bahwa tiga jenazah baru ditemukan pada Senin. Untuk membantu proses pembersihan puing-puing, pihak militer telah mengerahkan insinyur dan alat berat.
Pernyataan kontroversial datang dari Kepala Menteri Provinsi, Ali Amin Gandapur, pada Minggu.(17/8) mengatakan banyak kematian sebenarnya dapat dihindari "jika warga tidak membangun rumah di sepanjang aliran air." Gandapur menambahkan bahwa pemerintah akan mendorong keluarga yang kehilangan tempat tinggal untuk pindah ke daerah yang lebih aman, di mana mereka akan dibantu untuk membangun kembali rumah.
Pernyataan ini menuai respons keras dari korban selamat. Ikram Ullah, 55, dari desa Malak Pur, Buner, menceritakan bahwa rumah leluhur mereka hancur meski tidak berada di dekat sungai. "Banjir bandang membawa batu-batu besar yang menggelinding dari pegunungan dan menghancurkan semuanya," ujarnya.
Senada dengan Ikram, Shaukat Ali, 57, seorang pemilik toko kelontong di desa Pir Baba, juga merasa sakit hati. "Toko saya sudah berdiri bertahun-tahun di pasar, tidak di dekat sungai atau aliran air. Kami merasa terluka ketika ada yang mengatakan kami menderita karena tinggal di sepanjang aliran air," ungkapnya kepada The Associated Press.
Sejak 26 Juni, Pakistan mengalami curah hujan monsun yang jauh lebih tinggi dari normal, menewaskan setidaknya 645 orang di seluruh negeri. Otoritas Manajemen Bencana Nasional telah mengeluarkan peringatan banjir susulan seiring dimulainya kembali hujan di banyak wilayah Pakistan.
Upaya bantuan terus dilakukan. Angkatan Udara Pakistan memainkan peran penting dalam operasi bantuan dengan mengangkut 48 ton bantuan dari LSM dari Karachi ke Peshawar, ibu kota regional. Di samping itu, PBB dan lembaga kemanusiaan lainnya berkoordinasi untuk menyalurkan makanan dan air ke daerah-daerah yang terisolasi akibat jalan dan jalur komunikasi yang rusak.
Bencana ini kembali mengingatkan pada banjir dahsyat yang melanda Pakistan pada 2022, yang menewaskan hampir 1.700 orang dan membuat ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal. Bencana 2022 disebut-sebut memiliki kaitan erat dengan dampak perubahan iklim.
Editor : Redaksi TVRINews
Editor: Redaksi TVRINews
