
Foto: Arab News
Penulis: Fityan
TVRINews – Washington DC
Pentagon Ungkap Estimasi Perdana di Tengah Tekanan Politik Jelang Pemilu
Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) untuk pertama kalinya merilis estimasi resmi mengenai biaya operasi militer di Iran.
Seorang pejabat senior mengungkapkan pada Rabu (29/04) bahwa konflik tersebut telah menyedot anggaran sebesar US$25 miliar atau setara Rp400 triliun hingga saat ini.
Angka fantastis ini muncul di tengah memanasnya suhu politik di Washington. Dengan sisa waktu enam bulan menuju pemilihan paruh waktu (mid-term),Partai Demokrat mulai memanfaatkan isu pembengkakan biaya perang sebagai senjata politik untuk menekan dominasi Partai Republik di DPR.
Dalam dengar pendapat bersama Komite Angkatan Bersenjata DPR, Jules Hurst, yang menjabat sebagai pelaksana tugas pengawas keuangan (comptroller), menjelaskan bahwa sebagian besar alokasi dana tersebut terserap untuk pengadaan amunisi.
"Sebagian besar dari dana itu digunakan untuk kebutuhan munisi," ujar Hurst di hadapan para anggota dewan.
Meski memberikan angka kumulatif, Hurst tidak merinci apakah estimasi tersebut sudah mencakup biaya pemulihan infrastruktur pangkalan di Timur Tengah yang rusak akibat konflik.
Respons tajam datang dari Adam Smith, anggota senior Partai Demokrat di komite tersebut. Ia mengapresiasi keterbukaan Pentagon setelah sekian lama pihak legislatif merasa diabaikan terkait transparansi anggaran perang.
"Saya senang Anda akhirnya menjawab pertanyaan itu. Kami sudah menanyakannya sejak lama, dan baru kali ini ada yang memberikan angka pastinya," tegas Smith.
Dampak Ekonomi dan Jatuhnya Popularitas
Operasi militer yang dimulai sejak 28 Februari lalu ini tidak hanya menguras kas negara, tetapi juga memakan korban jiwa. Berdasarkan data terbaru, 13 tentara AS dinyatakan tewas dan ratusan lainnya luka-luka.
Secara operasional, Pentagon masih menyiagakan puluhan ribu personel tambahan di kawasan tersebut, termasuk pengerahan tiga kapal induk secara simultan.
Efek domino perang ini juga mulai dirasakan langsung oleh masyarakat Amerika. Gangguan pada pengiriman minyak dan gas bumi telah memicu lonjakan harga bensin serta bahan baku pertanian seperti pupuk. Hal ini menambah beban inflasi yang sudah membebani konsumen AS.
Imbasnya, tingkat kepercayaan publik terhadap kepemimpinan Presiden Trump terus merosot.
Berdasarkan jajak pendapat terbaru dari Reuters/Ipsos, dukungan publik terhadap konflik ini hanya menyentuh angka 34 persen, turun secara konsisten dari 38 persen pada bulan Maret.
Saat ini, kedua belah pihak sedang berada dalam posisi gencatan senjata yang rapuh, sementara tekanan domestik terhadap Gedung Putih terus meningkat seiring dengan melambungnya biaya hidup dan anggaran militer.
Editor: Redaktur TVRINews
