
Foto: World Bank
Penulis: Fityan
TVRINews- Jakarta
Lembaga baru ini dinilai mampu menjembatani modal asing dengan kepentingan nasional secara strategis.
Indonesia menghadapi tantangan besar dalam menarik investasi asing langsung (FDI) berskala masif yang diperlukan untuk meraih status ekonomi maju.
Bank Dunia menggarisbawahi adanya ketegangan antara sentimen nasionalisme ekonomi dengan kebutuhan akan keterbukaan pasar global.
Lead Country Economist World Bank untuk Indonesia dan Timor Leste, David Knight, menjelaskan bahwa hambatan utama pertumbuhan investasi saat ini adalah adanya resistensi terhadap kendali asing.
Menurutnya, terdapat benturan kepentingan antara investor yang menginginkan kontrol operasional dengan kebijakan pemerintah yang tetap memprioritaskan kepemilikan domestik.
"Ada dinamika di mana dana asing ingin memegang kendali penuh, sementara pemerintah berupaya mempertahankan kepemilikannya," ujar Knight dalam forum Indonesia Economic Outlook (IES) 2026 di Jakarta, Selasa 2 Februari 2026.
Kasus Telkomsel dan Freeport
Knight memberikan rujukan spesifik pada dua raksasa industri, yakni Telkomsel dan PT Freeport Indonesia. Ia menilai kedua entitas tersebut merupakan representasi perusahaan kelas dunia yang berhasil mempertahankan kedaulatan keuangan Indonesia, namun di sisi lain masih membatasi ruang bagi mitra asing dalam aspek operasional.
Struktur seperti ini, menurut analisis Bank Dunia, cenderung menurunkan daya tarik di mata investor internasional yang mencari efisiensi dan skala ekonomi luas.
"Apa yang mereka lakukan adalah mampu mempertahankan entitas Indonesia dengan kendali keuangan yang kuat, namun tetap membatasi kendali operasional bagi mitra asing," tambah Knight.
Danantara sebagai Solusi Strategis
Meskipun terdapat hambatan struktural, Bank Dunia melihat titik terang melalui kehadiran Badan Pengelola Investasi Danantara.
Lembaga baru ini diproyeksikan menjadi "mesin" yang mampu menjembatani kekhawatiran pelaku domestik terhadap dominasi perusahaan global.
Selama ini, investor asing seringkali merasa dirugikan secara skala akibat sikap waspada berlebihan dari pemain domestik. Danantara diharapkan dapat berfungsi sebagai penyeimbang (counterweight) yang memiliki konektivitas kuat baik di dalam maupun luar negeri.
"Pemerintah kini memiliki kendaraan untuk menarik investasi asing, karena kedua belah pihak kini memiliki kepentingan yang sama kuat untuk mencapai kesuksesan," tutup Knight.
Editor: Redaktur TVRINews
