
Warga Palestina membawa paket bantuan kemanusiaan di dekat pusat distribusi Gaza Humanitarian Foundation yang dioperasikan oleh organisasi yang didukung AS, di Netzarim,(Foto AP/Abdel Kareem Hana)
Penulis: Fityan
TVRINews – TEL AVIV, Israel
Rencana Baru PM Israel Dikecam, Dikhawatirkan Perburuk Nasib Sandera dan Warga Sipil.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengumumkan niatnya untuk mengambil alih kendali penuh atas Jalur Gaza. Dalam sebuah pertemuan Kabinet Keamanan, Netanyahu menyebut langkah ini sebagai bagian dari strategi untuk menghancurkan Hamas dan mengamankan perbatasan Israel. Rencana ini menuai pro dan kontra, terutama dari keluarga sandera yang masih ditahan di Gaza.
Berbicara dalam wawancara dengan Fox News, Netanyahu mengatakan, "Kami bermaksud untuk mengendalikan seluruh Gaza demi menjamin keamanan kami, menyingkirkan Hamas, dan membebaskan penduduk Gaza." Namun, ia menegaskan Israel tidak berniat untuk mempertahankan wilayah itu secara permanen. Ia berharap dapat menyerahkan administrasi Gaza kepada "pasukan Arab yang bersahabat."
Namun, rencana ini bukan tanpa tantangan. Saat ini, Israel sudah menguasai sekitar tiga perempat wilayah Gaza. Keluarga para sandera khawatir eskalasi militer lebih lanjut akan membahayakan nyawa orang-orang yang mereka cintai. Mereka bahkan melakukan protes di luar pertemuan Kabinet Keamanan di Yerusalem.
Seorang pejabat Israel yang tidak ingin disebutkan namanya menjelaskan, rencana ini akan diterapkan secara bertahap untuk meningkatkan tekanan pada Hamas. Namun, mantan pejabat keamanan senior Israel justru menentang ide ini, menyebutnya sebagai "jebakan" yang akan membawa Israel ke dalam kesulitan tanpa manfaat militer yang signifikan.
Laporan dari The Associated Press (AP) menyebutkan, perang darat dan udara yang berlangsung hampir dua tahun ini telah menewaskan puluhan ribu warga Palestina, menyebabkan jutaan orang mengungsi, menghancurkan sebagian besar wilayah, dan memicu krisis kelaparan. "Tidak ada lagi yang bisa diduduki," kata Maysaa al-Heila, seorang pengungsi di Gaza. "Gaza sudah tidak ada lagi."
Di sisi lain, Kepala Staf Militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, juga memperingatkan dampak pendudukan Gaza. Menurut laporan media Israel, hal ini tidak hanya membahayakan sandera tetapi juga akan memberikan beban berat bagi militer setelah bertahun-tahun perang.
Seorang ayah dari salah satu sandera, Yehuda Cohen, menuduh Netanyahu memperpanjang perang demi kepentingan politiknya. "Netanyahu hanya bekerja untuk dirinya sendiri," ujarnya. Tudingan ini muncul di tengah desakan dari sekutu Netanyahu di sayap kanan untuk mengeskalasi perang, memindahkan penduduk Gaza, dan membangun kembali permukiman Yahudi.
Peningkatan operasi militer dikhawatirkan akan mengisolasi Israel lebih jauh di mata internasional dan meningkatkan krisis kemanusiaan di Gaza. Sementara itu, kementerian kesehatan Gaza melaporkan lebih dari 61.000 warga Palestina telah tewas sejak dimulainya perang pada 7 Oktober 2023. Angka ini dianggap sebagai perkiraan yang paling andal oleh PBB dan para ahli independen, meskipun Israel menyanggahnya tanpa memberikan angka lain.
Editor : Redaksi TVRINews
Baca Juga:
Amnesty Internasional Minta Polisi Inggris Tak Tangkap Pendukung Palestine Action
Editor: Redaksi TVRINews
