
Impor Dihentikan, Harga Beras Global Turun 15%: Dampak Langsung Kebijakan Indonesia
Penulis: Fityan
TVRINews – Jakarta
Indonesia hentikan impor beras, pasar global kelebihan pasokan. Harga internasional anjlok dari USD 460 menjadi USD 390 per ton .
Kebijakan pemerintah Indonesia untuk menghentikan impor beras dalam beberapa bulan terakhir memberikan dampak nyata terhadap dinamika pasar pangan global. Berdasarkan data pasar internasional, harga beras dunia mengalami penurunan signifikan hingga 15 persen, dari posisi USD 460 per ton menjadi sekitar USD 390 per ton per Mei 2025.
Penurunan ini berkorelasi langsung dengan absennya Indonesia sebagai salah satu negara pengimpor utama beras dunia. Sebagai informasi, dalam kurun lima tahun terakhir, Indonesia secara konsisten menempati posisi 5 besar negara pengimpor beras terbanyak menurut FAO dan USDA.
Namun pada kuartal pertama 2025, pemerintah memutuskan untuk tidak lagi melakukan kontrak impor, seiring membaiknya produksi dalam negeri. Stok beras nasional saat ini mencapai 3,7 juta ton, dan diproyeksikan meningkat menjadi 4 juta ton dalam 15–20 hari mendatang, menurut data dari Perum Bulog dan Kementerian Pertanian.
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, menjelaskan bahwa keputusan ini merupakan hasil dari penyerapan optimal oleh Bulog terhadap gabah petani domestik, terutama selama panen raya di awal tahun. Dengan kata lain, keberhasilan swasembada beras menjadi faktor kunci absennya kebutuhan impor.
“Produksi petani lokal kita telah cukup untuk menutup kebutuhan nasional, sehingga tidak ada urgensi membuka keran impor,” ujar Sudaryono dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (20/5).
Secara global, efek domino dari penghentian impor ini adalah terjadinya oversupply di pasar internasional. Negara-negara eksportir seperti Thailand, Vietnam, dan India mengalami penurunan volume pengiriman ke Indonesia, yang selama ini menyerap jutaan ton per tahun.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya berhasil menurunkan ketergantungan terhadap pangan impor, tetapi juga secara tidak langsung ikut menekan harga dunia melalui peningkatan produksi dan efisiensi distribusi dalam negeri.
Meski demikian, penurunan harga global ini tidak berdampak langsung terhadap harga beras domestik, karena struktur pasar dalam negeri cenderung tertutup dan mayoritas pasokan berasal dari produksi nasional, bukan impor. Artinya, penurunan harga dunia lebih berpengaruh pada neraca perdagangan dan strategi ekspor-impor Indonesia ke depan.
Dalam jangka panjang, keberhasilan ini dapat dijadikan momentum untuk mendorong kemandirian pangan nasional di komoditas lainnya seperti jagung, kedelai, dan hortikultura. Pemerintah menargetkan agar Indonesia mampu memperkuat posisi sebagai produsen, bukan hanya konsumen dalam rantai pasok pangan global.
Baca Juga: Bom Bunuh Diri Serang Bus Sekolah di Pakistan, 4 Anak Tewas
Editor: Redaktur TVRINews
