
Menara Sussi adalah gedung bertingkat tinggi kedua di Kota Gaza yang dihancurkan (Foto: BBC News)
Penulis: Fityan
TVRINews – Gaza
Israel Gempur Kota Gaza, Bangunan Tinggi Jadi Sasaran Baru
Pasukan militer Israel kembali menghancurkan sebuah gedung bertingkat di Kota Gaza. Aksi ini menjadi yang kedua kalinya dalam dua hari terakhir, menandai intensifikasi serangan yang menargetkan infrastruktur sipil di wilayah tersebut.
Gedung yang dikenal sebagai Menara Sussi luluh lantak setelah dihantam serangan Israel. Cuplikan video yang memperlihatkan gedung tersebut ambruk diunggah oleh Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, di media sosial X dengan narasi singkat, "Kami terus berlanjut."
Militer Israel (IDF) mengklaim Menara Sussi digunakan sebagai basis operasi oleh kelompok Hamas, sebuah tuduhan yang langsung dibantah oleh Hamas. Belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa dalam insiden ini.
Sebelum serangan pada Sabtu (6/9), Israel menjatuhkan pamflet yang berisi imbauan bagi warga Palestina untuk pindah ke wilayah yang mereka sebut sebagai "zona kemanusiaan" di selatan. Juru bicara IDF berbahasa Arab, Avichay Adraee, meminta warga untuk "bergabung dengan ribuan orang yang sudah pergi" ke al-Mawasi, sebuah wilayah antara Khan Younis dan pesisir pantai.
Namun, imbauan ini mendapat kritik keras. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan kamp-kamp di al-Mawasi sudah kelebihan kapasitas dan tidak aman. Kondisi rumah sakit di wilayah selatan juga dilaporkan sudah kewalahan. Pada Selasa lalu, lima anak tewas saat antre air di al-Mawasi akibat serangan drone Israel, sebuah insiden yang menurut IDF sedang dalam "peninjauan."
Penghancuran Menara Sussi menyusul serangan serupa pada Jumat lalu yang meratakan Menara Mushtaha di lingkungan al-Rimal. Video di media sosial menunjukkan Menara Mushtaha roboh setelah ledakan besar di bagian dasarnya.
Meskipun IDF mengklaim telah mengambil langkah pencegahan untuk memitigasi bahaya bagi warga sipil, termasuk memberikan "peringatan awal" dan menggunakan "amunisi presisi," warga Palestina menyampaikan bahwa banyak keluarga pengungsi berlindung di dalam Menara Mushtaha.
Mahmud Bassal, juru bicara badan pertahanan sipil Gaza, menuduh Israel menerapkan "kebijakan pemindahan paksa." Menurutnya, serangan yang merusak dan menghancurkan bangunan sipil memaksa warga untuk terus mengungsi dan meninggalkan tempat tinggal mereka.
Citra satelit menunjukkan beberapa lingkungan di Kota Gaza sudah rata dengan tanah akibat serangan dan penghancuran yang dilakukan Israel selama sebulan terakhir. Penghancuran menara-menara ini menjadi pukulan telak bagi sejarah Kota Gaza. Bangunan-bangunan ini merupakan simbol harapan untuk mengakhiri pendudukan Israel dan membangun negara Palestina yang merdeka.
Pembangunan menara bertingkat di Gaza dimulai setelah penandatanganan Perjanjian Oslo pada tahun 1993, yang memungkinkan puluhan ribu warga Palestina kembali dari pengasingan. Ekspansi vertikal menjadi keharusan untuk menampung para pengungsi. Otoritas Palestina mendorong investasi besar di sektor konstruksi, bahkan menamai lingkungan dengan nama menara-menara tersebut.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebelumnya telah menyatakan niatnya untuk menguasai seluruh Jalur Gaza setelah pembicaraan tidak langsung dengan Hamas mengenai gencatan senjata dan kesepakatan pembebasan sandera terhenti pada Juli.
PBB memperkirakan hampir satu juta orang masih berada di Kota Gaza, di mana kondisi kelaparan sudah dinyatakan pada bulan lalu. PBB memperingatkan "bencana" yang mengancang jika serangan ini terus berlanjut.
Baca juga: SBY Dorong Persaudaraan dan Dialog Pasca Gejolak Unjuk Rasa
Editor: Redaksi TVRINews
