
Presiden Amerika Serikat Donald Trump Di Washington DC Selasa 21 April 2026 ( Foto: BBC News)
Penulis: Fityan
TVRINews – Washington
Negosiasi Berlanjut di Tengah Blokade Laut yang Kian Menegang
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, resmi mengumumkan perpanjangan masa gencatan senjata dengan Iran pada Selasa 21 April 2026 waktu setempat.
Keputusan diplomatik ini diambil menyusul permohonan khusus dari Pakistan, sembari Washington menanti proposal terpadu dari pihak Republik Islam tersebut.
Pengumuman ini muncul di tengah ketidakpastian tinggi, tepat saat gencatan senjata dua minggu sebelumnya hampir berakhir pada hari ini Rabu 22 April.
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menegaskan bahwa meski serangan ditangguhkan, blokade militer AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan tetap berjalan.
Diplomasi di Ambang Batas.
Ketegangan sempat memuncak ketika Gedung Putih menunda rencana perjalanan Wakil Presiden JD Vance ke Islamabad untuk putaran perundingan kedua.
Penundaan ini terjadi setelah Teheran menunjukkan sikap enggan untuk melanjutkan dialog lebih lanjut dalam waktu dekat.
Upaya intensif dilakukan oleh pemimpin Pakistan, termasuk Perdana Menteri Shehbaz Sharif, yang bekerja keras hingga Selasa 21 April malam untuk membujuk kedua belah pihak agar kembali ke meja perundingan.
"Belum ada keputusan final mengenai kehadiran kami karena adanya tindakan AS yang tidak dapat diterima," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, merujuk pada blokade AS di Selat Hormuz Kutip BBC News.
Konflik Kepentingan di Selat Hormuz
Fokus utama negosiasi saat ini tertuju pada kontrol Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang melayani 20 persen pasokan gas alam dan minyak mentah dunia.
Blokade Iran di wilayah tersebut telah memicu lonjakan harga minyak mentah Brent hingga mendekati $95 per barel, naik lebih dari 30 persen sejak pecahnya konflik pada akhir Februari.
Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, menyatakan bahwa penghentian blokade pelabuhan oleh AS merupakan syarat mutlak bagi Teheran untuk bergabung kembali dalam pembicaraan damai.
Di sisi lain, Trump menuntut agar kapal-kapal internasional diizinkan melintasi selat tersebut tanpa hambatan sebelum sanksi militer dicabut.
Risiko Eskalasi Regional
Meskipun gencatan senjata diperpanjang, retorika perang dari kedua pihak tetap tajam:
• Peringatan AS: Donald Trump memperingatkan bahwa "banyak bom akan mulai meledak" jika kesepakatan tidak tercapai.
• Ancaman Iran: Komandan senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Jenderal Majid Mousavi, mengancam akan melumpuhkan industri minyak regional jika perang berlanjut. "Ucapkan selamat tinggal pada produksi minyak di Timur Tengah," tegasnya.
Dampak Kemanusiaan dan Harapan Pakistan
Pakistan, yang bertindak sebagai mediator, tetap optimistis Teheran akan mengirimkan delegasi untuk melanjutkan negosiasi tingkat tertinggi sejak Revolusi Islam 1979 ini.
Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, telah melakukan pertemuan intensif dengan perwakilan AS dan China untuk mengawal proses ini.
Berdasarkan data otoritas setempat, konflik yang pecah sejak Februari ini telah memakan korban jiwa sedikitnya 3.375 orang di Iran.
Dampak fatal juga meluas ke Israel, negara-negara Teluk Arab, serta menyebabkan gugurnya 13 personel militer AS di kawasan tersebut.
Saat ini, utusan khusus Trump, Steve Witkoff, dan penasihat senior Jared Kushner dilaporkan telah berada di Washington untuk konsultasi mendalam guna menentukan langkah strategis berikutnya sebelum masa perpanjangan ini kembali berakhir.
Editor: Redaktur TVRINews
