
Pejuang Muslim Filipina beserta militan asing sempat bersatu untuk menguasai Marawi (Foto: AFP)
Penulis: Fityan
TVRINews – Manila
Pemimpin kelompok bersenjata Amerol Mangoranca tewas dalam baku tembak di Mindanao.
Pasukan keamanan Filipina melumpuhkan 10 anggota kelompok militan Islam bersenjata dalam sebuah operasi penangkapan di wilayah selatan negara tersebut pada Jumat 17 April 2026.
Baku tembak pecah setelah para tersangka dilaporkan melakukan perlawanan sengit saat hendak diamankan oleh petugas.
Insiden ini terjadi di wilayah mayoritas Muslim di negara yang didominasi penganut Katolik tersebut, tempat di mana sisa-sisa kelompok terafiliasi Daesh masih kerap beroperasi.
Kronologi Operasi Subuh
Berdasarkan laporan kepolisian regional, salah satu korban tewas teridentifikasi sebagai Amerol Mangoranca, yang merupakan pemimpin kelompok bersenjata Maute-Dawlah Islamiya.
Berdasarkan rilis yang dikutip Arab News, Satuan gabungan kepolisian dan militer tiba di dekat kota Marantao sebelum fajar menyingsing. Kehadiran mereka bertujuan untuk mengeksekusi surat perintah penangkapan terhadap Mangoranca dan kelompoknya atas tuduhan pembunuhan, pembunuhan berencana, serta penculikan.

(Criminal Investigation and Detection Group (CIDG))
Upaya hukum tersebut memicu kontak senjata selama satu jam. Di antara para milisi yang terlibat dalam baku tembak, terdapat istri sang pemimpin pemberontak beserta tiga wanita lainnya.
Pemulihan Keamanan dan Barang Bukti
Dalam laporan militer terpisah, pihak berwenang mengonfirmasi bahwa seorang bayi ditemukan dalam kondisi selamat pasca-kontak senjata. Di pihak pemerintah, dilaporkan tidak ada personel yang menjadi korban jiwa maupun luka.

(sumber: 1st Infantry Division Filipina)
Pihak militer juga berhasil mengamankan sejumlah barang bukti dari lokasi kejadian, meliputi:
• Berbagai jenis senjata api.
• Bahan peledak rakitan.
Kaitan dengan Tragedi Marawi
Kelompok ini diduga kuat menjadi otak di balik penyergapan pada Januari lalu yang menewaskan empat tentara dan melukai satu orang lainnya. Komandan Divisi Infanteri Pertama
Angkatan Darat Filipina, Mayor Jenderal Yegor Barroquillo, menegaskan bahwa para militan yang tewas berasal dari jaringan yang sama dengan pelaku pengepungan Marawi.
"Para pria bersenjata yang tewas berasal dari jaringan yang sama yang bertanggung jawab atas pengepungan Marawi dan kekerasan selama bertahun-tahun," ujar Maj. Gen. Yegor Barroquillo dalam pernyataan resminya.
Sebagai catatan sejarah, pada Mei 2017, ratusan pejuang Muslim Filipina bersama militan asing bersatu untuk menguasai kota Marawi di Mindanao. Ambisi mereka adalah menjadikan kota tersebut sebagai ibu kota kekhalifahan Asia Tenggara yang dijalankan berdasarkan interpretasi radikal mereka.
Pengepungan berdarah oleh pasukan pemerintah baru berakhir lima bulan kemudian, dengan catatan kelam kehilangan lebih dari seribu nyawa serta tewasnya jajaran pemimpin senior kelompok militan tersebut.
Editor: Redaksi TVRINews
