
Presiden Donald Trump saat Bersama Media di gedung putih senin 27 April 2026 (Foto: AFP)
Penulis: Fityan
TVRINews – Washington/Dubai
Presiden AS tidak puas dengan syarat Teheran; harga minyak dunia merangkak naik akibat blokade Selat Hormuz.
Prospek perdamaian di Timur Tengah kembali menemui jalan buntu setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan ketidakpuasannya terhadap proposal terbaru Iran untuk mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung selama dua bulan.
Kabar ini memicu kekhawatiran global mengingat perang tersebut telah mengganggu pasokan energi, memicu inflasi, dan merenggut ribuan nyawa.
Proposal terbaru Iran menyarankan agar diskusi mengenai program nuklir ditangguhkan hingga perang berakhir dan sengketa pengiriman di Teluk diselesaikan.
Namun, Washington bersikeras bahwa isu nuklir harus menjadi prioritas utama sejak awal.
"Presiden Trump tidak puas dengan usulan Iran karena alasan tersebut," ujar pejabat yang mengetahui isi pertemuan Presiden dengan para penasihatnya pada Senin 27 April 2026, sebagaimana dilaporkan Reuters.
Menanggapi situasi ini, juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales, menegaskan sikap tegas pemerintah. "Amerika Serikat tidak akan bernegosiasi melalui pers. Kami telah memperjelas batasan-batasan kami (red lines)," tegas Wales.
Dampak Ekonomi dan Blokade Maritim
Ketidakpastian diplomatik ini langsung berdampak pada pasar komoditas. Harga minyak kembali menguat pada perdagangan di Asia, Selasa 28 April pagi.
Para analis menilai pasar kini lebih memperhatikan fakta di lapangan daripada retorika politik.
"Bagi pedagang minyak, yang penting saat ini bukan lagi retorika, melainkan aliran fisik minyak mentah melalui Selat Hormuz. Saat ini, aliran tersebut tetap terhambat," kata Fawad Razaqzada, analis pasar di City Index dan FOREX.com.
Data pelacakan kapal menunjukkan setidaknya enam tanker pengangkut minyak Iran terpaksa kembali ke pelabuhan akibat blokade AS. Sebelum perang, sekitar 125 hingga 140 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari.
Namun, data satelit terbaru dari Kpler dan SynMax menunjukkan hanya tujuh kapal yang melintas dalam 24 jam terakhir, dan tidak satu pun mengangkut minyak untuk pasar global.
Manuver Teheran
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, terus melakukan gerilya diplomatik. Setelah mengunjungi Pakistan dan Oman, Araghchi tiba di Rusia pada Senin untuk bertemu Presiden Vladimir Putin.
Dalam pernyataannya kepada awak media di Rusia, Araghchi mengeklaim bahwa Trump-lah yang sebenarnya membutuhkan negosiasi karena AS gagal mencapai tujuan militernya. Pihak Iran menawarkan skema negosiasi bertahap:
1. Penghentian serangan AS-Israel ke Iran.
2. Jaminan keamanan agar konflik tidak terulang.
3. Penyelesaian blokade laut dan pembukaan kembali Selat Hormuz di bawah kendali Iran.
4. Pembahasan isu-isu lain, termasuk hak pengayaan uranium Iran.
Kementerian Luar Negeri Iran melalui media sosialnya mengutuk penyitaan tanker oleh AS sebagai bentuk "legalisasi pembajakan dan perampokan bersenjata di laut lepas."
Hingga saat ini, ketegangan tetap tinggi.
Harapan akan adanya terobosan diplomatik sempat meredup setelah Trump membatalkan rencana kunjungan utusan khususnya, Steve Witkoff, dan menantunya, Jared Kushner, ke Islamabad akhir pekan lalu.
Editor: Redaktur TVRINews
