
Kapal Epaminondas saat dilakukan penyitaan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Selat Hormuz, Iran, 24 April 2026. (Tasnim/WANA)
Penulis: Fityan
TVRINews – Kairo
Teheran mengajukan proposal pengakhiran blokade di tengah kebuntuan diplomatik dan lonjakan harga energi global.
Iran dilaporkan telah mengajukan tawaran untuk mengakhiri penutupan Selat Hormuz dengan syarat Amerika Serikat mencabut blokade ekonomi dan menghentikan konfrontasi militer.
Proposal yang disampaikan melalui perantara Pakistan ini menyarankan penundaan pembahasan program nuklir Republik Islam tersebut guna memecahkan kebuntuan yang telah melumpuhkan jalur perdagangan energi dunia.
Meski demikian, Presiden AS Donald Trump diyakini tidak akan menerima tawaran tersebut.
Sumber diplomatik menyebutkan bahwa proposal ini belum menyentuh akar permasalahan yang memicu pecahnya perang pada 28 Februari lalu antara AS, Israel, dan Iran.
Sikap Keras Washington
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menegaskan bahwa Washington tidak akan membiarkan Teheran mendikte aturan di perairan internasional.
Dalam wawancaranya dengan Fox News, Rubio menyoroti bahwa tawaran Iran bukanlah sebuah itikad murni untuk perdamaian, melainkan upaya melegalkan pungutan liar atau upeti bagi kapal yang melintas.
"Apa yang mereka maksud dengan membuka selat adalah: 'Ya, selat dibuka selama Anda berkoordinasi dengan Iran, mendapatkan izin kami, atau kami akan menghancurkan Anda, dan Anda membayar kami.' Itu bukan membuka selat; itu adalah jalur air internasional," tegas Rubio pada Senin 27 April 2026.
Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat tidak dapat menoleransi normalisasi sistem di mana Iran memutuskan siapa yang berhak menggunakan Selat Hormuz dan berapa biaya yang harus dibayar untuk melintasinya.
Dampak Ekonomi Global
Saat ini, AS dan Iran terjebak dalam posisi standoff di Selat Hormuz, jalur krusial yang dilewati seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Blokade AS bertujuan memutus pendapatan Teheran dari penjualan minyak, yang kini memaksa Iran menghadapi krisis penyimpanan karena produksi yang tidak terserap pasar.
Namun, penutupan selat ini juga menjadi bumerang bagi pemerintahan Trump. Harga minyak mentah jenis Brent melonjak hingga USD 108 per barel, naik hampir 50 persen sejak perang dimulai.
Kondisi ini memicu inflasi global pada komoditas pangan dan pupuk, serta memberikan tekanan politik domestik menjelang pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat.
Diplomasi di Balik Layar
Dua pejabat regional yang berbicara dalam kondisi anonim kepada Axios mengungkapkan bahwa proposal Iran muncul di tengah kunjungan Menteri Luar Negeri Iran ke Rusia.
Selain itu, Teheran dilaporkan tengah melobi Oman untuk mendukung mekanisme pengumpulan tol bagi kapal-kapal yang melintasi selat tersebut.
Di sisi lain, Pakistan terus berupaya menghidupkan kembali negosiasi yang sempat tertunda di Islamabad. Meskipun Presiden Trump menyebutkan adanya proposal yang "jauh lebih baik" dari Iran, ia tetap memberikan syarat mutlak.
"Iran tidak akan boleh memiliki senjata nuklir," ujar Trump kepada wartawan, menegaskan bahwa pelarangan pengayaan uranium tetap menjadi prioritas utama AS.
Konflik yang telah berlangsung sejak awal tahun ini telah memakan korban jiwa sedikitnya 3.375 orang di Iran, serta puluhan korban lainnya di Israel dan negara-negara Teluk.
Hingga laporan ini diturunkan, gencatan senjata yang diperpanjang pekan lalu masih bersifat rapuh, sementara penyelesaian permanen atas krisis kedaulatan maritim ini masih jauh dari jangkauan.
Editor: Redaktur TVRINews
