
Foto: Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal. ( TVRINews/ Lidya Thalia. S)
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal menilai sikap negara-negara Eropa yang solid membela Denmark dalam isu Greenland dapat menjadi pelajaran penting bagi ASEAN di tengah menguatnya politik luar negeri transaksional Amerika Serikat.
Menurut Dino, respons Eropa menunjukkan kuatnya solidaritas kawasan dalam menjaga prinsip kedaulatan negara, sesuatu yang perlu terus diperkuat di Asia Tenggara.
“Negara-negara Eropa sangat jelas menunjukkan solidaritasnya membela Denmark. Ini pelajaran penting bagi kawasan lain, termasuk ASEAN,” ujar Dino saat menjelaskan kepada awak media di FPCI, Sudirman, Jakarta, Senin, 19 Januari 2026.
Ia menilai dinamika geopolitik global saat ini ditandai dengan munculnya kembali gejala imperialisme, yakni kecenderungan suatu negara untuk tidak hanya mempertahankan wilayahnya sendiri, tetapi juga berupaya menguasai wilayah negara lain serta memaksakan kehendak politik.
Tak hanya itu, Dino juga menekankan, meski ASEAN memiliki sejumlah persoalan internal seperti konflik perbatasan dan krisis politik di Myanmar, kawasan Asia Tenggara relatif terbebas dari praktik imperialisme antarnegara.
“Alhamdulillah, di ASEAN tidak ada gejala imperialisme seperti itu. Tidak ada negara yang seenaknya ingin mengambil wilayah negara lain,”ucapnya.
Dalam konteks tersebut, Dino menilai peringatan 50 tahun Treaty of Amity and Cooperation (TAC) pada 2026 menjadi momentum penting bagi ASEAN untuk mempertegas kembali komitmen terhadap prinsip perdamaian, saling menghormati kedaulatan, dan penyelesaian sengketa secara damai.
“Treaty of Amity and Cooperation ini perjanjian yang benar-benar mengubah wajah Asia Tenggara. Sekarang waktunya ASEAN melakukan refleksi dan menegaskan kembali komitmen terhadap TAC sebagai norma paling penting di kawasan,”jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa seluruh negara mitra ASEAN, termasuk kekuatan besar dunia, harus menghormati aturan tersebut.
“Kita harus insist bahwa siapa pun yang bermain di kawasan ini Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, Jepang, India semuanya harus tunduk pada aturan Treaty of Amity and Cooperation yang sudah mereka tandatangani,”lanjutnya.
Menurut Dino, penguatan norma kawasan menjadi kunci agar Asia Tenggara tidak terseret dalam rivalitas kekuatan besar dan tetap terjaga sebagai kawasan yang damai, stabil, dan bebas dari intervensi.
“Ini adalah waktu refleksi bagi ASEAN,”tuturnya.
Editor: Redaktur TVRINews
