
Foto: X Sprinter Press
Penulis: Fityan
TVRINews – Pyongyang, Korea Utara
Dukungan penuh bagi suksesi Teheran di tengah ancaman militer
Pemerintah Korea Utara secara resmi menyatakan penghormatannya terhadap keputusan Iran dalam menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi yang baru.
Sikap ini mempertegas hubungan diplomatik antara kedua negara di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara menyampaikan pada Selasa 10 Maret 2026 bahwa pihaknya mengakui kedaulatan penuh rakyat Iran dalam menentukan masa depan kepemimpinan mereka.
Pernyataan ini muncul menyusul pengumuman resmi dari Majelis Ahli Iran mengenai suksesi putra kedua mendiang Ayatollah Ali Khamenei tersebut.
Baca Juga: AS Hancurkan Kapal Ranjau Iran di Hormuz
"Kami menghormati hak dan pilihan rakyat Iran dalam memilih Pemimpin Tertinggi mereka sendiri," ujar juru bicara tersebut dalam sesi tanya jawab dengan awak media, sebagaimana dikutip dari laporan resmi pemerintah Korea Utara.
Kecaman Terhadap Intervensi Asing
Selain memberikan dukungan politik, Pyongyang juga melontarkan kritik tajam terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Korea Utara menilai tindakan militer dan retorika yang diarahkan kepada Teheran sebagai ancaman terhadap stabilitas internasional.
Pemerintah Korea Utara menegaskan bahwa segala bentuk upaya perubahan rezim atau pelanggaran integritas wilayah adalah tindakan yang tidak dapat diterima.
"Segala ancaman retoris dan aksi militer yang melanggar sistem politik suatu negara harus dikutuk oleh komunitas global," tambah perwakilan tersebut tanpa menyebut nama Presiden AS, Donald Trump, secara langsung.
Konstruksi Aliansi dan Reaksi Global
Pasca-runtuhnya pemerintahan Bashar al-Assad di Suriah, Iran kini menjadi sekutu utama Korea Utara di kawasan Timur Tengah. Hubungan strategis ini tercermin dari keselarasan pandangan kedua negara dalam menghadapi tekanan Barat.
Di Teheran, Majelis Ahli yang beranggotakan 88 orang mengonfirmasi terpilihnya Mojtaba pada akhir pekan lalu. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga telah menyatakan kesetiaan mereka kepada pemimpin baru tersebut, yang diikuti dengan perayaan warga di jalan-jalan ibu kota.
Namun, transisi ini memicu respons dingin dari Washington dan Tel Aviv:
• Amerika Serikat: Presiden Donald Trump menyatakan kekecewaannya dan menganggap pemilihan ini hanya akan memperpanjang konflik internal di Iran.
• Israel: Kementerian Luar Negeri Israel melabeli kepemimpinan baru ini sebagai kelanjutan dari rezim sebelumnya yang mereka anggap represif.
Baik AS maupun Israel sebelumnya telah mengisyaratkan akan terus melanjutkan tekanan maksimal terhadap siapa pun yang menduduki kursi kekuasaan di Iran, termasuk potensi operasi militer yang menargetkan figur-figur kunci pemerintahan.
Editor: Redaktur TVRINews
