
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi (Tengah) (Foto: Al Jazeera)
Penulis: Fityan
TVRINews-Jenewa
Diplomasi Nuklir: Iran Bertemu IAEA Sebelum Perundingan Krusial dengan Amerika Serikat
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, tiba di Jenewa pada Senin untuk memulai putaran kedua dialog nuklir tingkat tinggi dengan Amerika Serikat.
Langkah diplomatik ini dilakukan di tengah ketegangan militer yang meningkat di Timur Tengah dan upaya global untuk mencegah eskalasi konflik lebih lanjut.
Sebelum berhadapan dengan delegasi Washington yang dijadwalkan pada Selasa 17 Februari 2026 besok, Araghchi dijadwalkan bertemu dengan Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi.
Pertemuan ini disebut-sebut sebagai upaya krusial untuk memecahkan kebuntuan teknis terkait akses inspeksi pasca-konflik.
Fokus pada Keamanan
Radiasi dan Akses Teknis
Dalam pernyataannya, Araghchi menegaskan bahwa tim ahli nuklir Iran akan mendampinginya dalam diskusi teknis mendalam dengan Grossi.
Agenda utama pembicaraan ini adalah permintaan IAEA untuk mengakses fasilitas nuklir utama Iran yang terdampak serangan udara pada medio Juni lalu.
Pihak Teheran sebelumnya menyatakan kekhawatiran mengenai risiko kebocoran radiasi di lokasi tersebut.
Pemerintah Iran menekankan perlunya protokol resmi yang ketat sebelum tim internasional dapat memeriksa residu uranium yang diperkaya di bawah reruntuhan fasilitas.
Peran Mediator dan Garis Merah Teheran
Selain bertemu dengan pihak IAEA dan AS, Araghchi juga dijadwalkan mengadakan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Oman, Badr bin Hamad al-Busaidi.
Oman kembali memainkan peran vital sebagai mediator, sebagaimana yang mereka lakukan pada putaran pertama perundingan awal bulan ini.
Meskipun menunjukkan itikad untuk berdialog, Iran tetap mempertahankan posisi kerasnya terkait kedaulatan teknologi. Araghchi mengisyaratkan bahwa beberapa poin tetap tidak dapat dinegosiasikan.
"Iran tidak akan tunduk pada tuntutan penghentian total pengayaan nuklir. Program rudal kami adalah garis merah yang tidak bisa diganggu gugat," ujar Araghchi dalam keterangannya kepada Al Jazeera, merujuk pada prinsip kedaulatan pertahanan nasionalnya.
Konteks Keamanan Regional
Perundingan di Jenewa ini berlangsung di bawah bayang-bayang kehadiran militer Amerika Serikat yang signifikan di kawasan tersebut, termasuk pengerahan kapal induk kedua.
Kehadiran kekuatan armada perang ini disebut Washington sebagai upaya de-eskalasi sekaligus pencegahan agar konflik tidak meluas menjadi perang regional yang lebih besar.
Dunia internasional kini menanti apakah diplomasi di meja bundar Jenewa mampu meredam ketegangan nuklir yang telah berlangsung selama puluhan tahun, atau justru menemui jalan buntu baru di tengah puing-puing pasca-perang Juni.
Editor: Redaksi TVRINews
